KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI

SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN

Teknologi AI untuk Mendeteksi Stunting Temuan Mahasiswa UGM

21 November 2023 | Berita, Media

Lima mahasiswa UGM pencipta alat deteksi dini stunting berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama Electronic Stunting Detection System (ESDS). (Foto: UGM)

YOGYAKARTA (stunting.go.id)- Lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menciptakan alat detektor stunting untuk bayi dengan teknologi Artificial Intelligence (AI) yang dapat mendeteksi status gizi bayi dalam lima detik. Alat ini dinamai Electronic Stunting Detection System (ESDS). Penemunya adalah lima mahasiswa UGM bernama AA Gde Yogi Pramana, Haidar Muhammad Zidan (IUP Elektronika dan Instrumentasi), Faiz Ihza Permana (Teknik Biomedis), Ichsan Dwinanda Handika (Teknik Biomedis), serta Salsa Novalimah (Gizi Kesehatan).

Alat ini menjadi salah satu perhatian pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 2023. Pimnas adalah event yang diselenggarakan oleh Balai Pengembangan Talenta Indonesia (BPTI), Pusat Prestasi Nasional, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang memperlombakan karya ilmiah mahasiswa tingkat nasional. Pimnas diikuti oleh mahasiswa atau kelompok tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).

Menurut Gde Yogi Pratama, alat rancangannya dan kawan-kawannya itu mampu mengukur massa dan panjang tubuh bayi untuk mendeteksi dan langsung menghitungnya dengan rumus yang ditetapkan. Dari situ, alat ini memberi warning apakah bayi masuk kategori stunting atau tidak. “Akurasinya 95-99 persen,” kata Yogi di Yogyakarta Senin, (20/11/2023). Namun tidak dijelaskan lebih lanjut bagaimana cara mengaplikasikan alat ini.

Alat yang dikembangkan sejak Juni 2023 lalu itu memiliki sejumlah indikator. Indikator-indikator ini dijadikan ukuran untuk mengambil simpulan tentang status gizi bayi yang diukur. Alat ini tidak hanya mengeluarkan alert tentang status gizi, tetapi juga edukasi sederhana terkait gizi anak, serta menampilkan riwayat tumbuh kembang anak.

Anggota tim lain, Salsa Novalimah menambahkan, alat yang dikembangkan dengan biaya Rp3 juta itu menggunakan algoritma SMOTE-ENN yang diintegrasikan dengan Ensemble Learning untuk menghitung berat badan dan tinggi badan bayi.

Ensemble Learning tersebut dapat mengklasifikasikan uji sampel berdasarkan data yang dinamis. “Saat bayi ditimbang, sensor high precision load cell akan membaca besaran yang diukur atau ditimbang. Hasilnya, bisa dikalibrasi dengan metode regresi linear untuk mendapatkan calibration factor,” jelasnya. Hasil pengukuran berupa data kuantitatif yang merupakan interpretasi dari massa dan panjang tubuh bayi yang diukur bisa terlihat di LCD untuk mengetahui kondisi kesehatan bayi. Pengukurannya butuh waktu 3-5 detik.

Penciptaan alat ini termotivasi oleh tingginya kasus stunting di Indonesia. Terkadang orang tua baru menyadari anaknya stunting ketika hal itu sudah terjadi. Hal ini diperparah oleh faktor-faktor lain, seperti kurang akuratnya pengukuran di Posyandu. Alat ini dapat menjadi solusi kebutuhan data yang akurat, karena selama ini deteksi dini yang dilakukan kader kesehatan di Posyandu masih sering terjadi kesalahan dalam penimbangan dan pengukuran. (mjr.mw)

BAGIKAN

Baca Juga

Link Terkait