KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI

SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN

Prevalensi Stunting Tertinggi, Mendes PDTT Target Akses Pangan Bergizi di NTT

18 Agustus 2022 | Berita, Media

NUSA TENGGARA TIMUR- Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) menargetkan perbaikan akses pangan bergizi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Pasalnya, Provinsi tersebut merupakan daerah dengan prevalensi stunting tertinggi di Indonesia, yaitu 37,8 persen.

Demikian terungkap dalam kunjungan kerja Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar ke Desa Tubu, Kecamatan Bikomi Nilulat, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi NTT, Selasa 16 Agustus 2022.

“Kementerian Desa punya perhatian khusus, terkait dengan penurunan stunting. Karena kami berharap warga NTT semakin hari semakin cerdas, semakin pintar, dan kami juga berharap lahir tokoh-tokoh nasional dari Nusa Tenggara Timur, dan kuncinya cuma satu, yaitu makan makanan bergizi dan tekun belajar,” kata Abdul Halim Iskandar.

Menteri Halim Iskandar mengaku prihatin saat perjalanan menuju Desa Tubu, di mana ditemukan fakta banyak anak-anak di bawah umur lebih suka menyantap mie instan daripada makan beras atau ayam. Menurutnya, ini merupakan kebiasaan buruk, apalagi dilakukan pada usia dini.

“Ketika saya jalan ke sini tadi melihat beberapa anak kecil makan mie instan, lalu saya tanya enak makan mie atau beras? Ternyata banyak yang pilih makan mie instan. Jangan-jangan lebih pilih makan mie instan daripada ayam,” paparnya.

Fakta tersebut membuat Menteri Halim Iskandar mengajak seluruh elemen masyarakat desa untuk mengubah pola makan mereka secara komprehensif, mulai dari berternak dan bertani yang dapat memberikan manfaat positif terhadap peningkatan gizi mereka.

“Saya mengajak kepada kita semua, pola makannya harus kita tata secara menyeluruh. Karena banyak makanan di sekitar kita yang jauh lebih bergizi daripada makan mie instan. Perbanyaklah ternak ayam dan tanam pohon kelor. Itu sangat penting untuk meningkatkan gizi yang berdampak pada penurunan stunting,” ungkap eks Ketua DPRD Provinsi Jawa Timur.

Mendes PDTT meyakini desa-desa akan lebih mudah menangani stunting di desa, apalagi didukung dengan data desa berbasis individu dan rumah tangga. “Data desa yang dikumpulkan relawan desa itu bisa langsung merujuk pada keluarga dan individu penderita stunting, sehingga penanganannya akan lebih mudah,” jelasnya.

Menteri Halim Iskandar juga menyempatkan berkunjung ke BUMDesa Pala Opat yang dimiliki Desa Tubu. Menurutnya, BUMDesa merupakan motor penggerak yang efektif bagi desa untuk pengentasan kemiskinan dan menekan angka stunting.

Dalam kesempatan itu, dia mengingatkan bahwa titik tekan adanya BUMDesa adalah membuka akses pemerataan ekonomi demi kesejahteraan masyarakat, bukan pada pendapatan Desa.

“Saya ucapkan selamat dengan berbagai macam gerakan yang diproduksi sejauh ini. Namun ingat, pada prinsipnya BUMDesa itu untuk kesejahteraan masyarakat, bukan semata-mata untuk pendapatan Desa,” tambah Mendes PDTT Halim Iskandar.

BAGIKAN

Baca Juga

Link Terkait