KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI

SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN

Praktik Baik Penurunan Stunting di Lima Puluh Kota, Inovasi Inspiratif

27 Oktober 2022 | Berita, Media

LIMA PULUH KOTA (https://stunting.go.id)Hawa sejuk Desa Tanjuang Bungo, Kecamatan Suliki, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat begitu terasa saat kami berbincang bersama lima orang ibu sasaran program stunting di kantor desa. Di awal perbincangan, mereka tampak tegang seperti sedang diinterogasi petugas.

Saya mencoba memecah suasana, “Tenang Bu, ini bukan interogasi. Kalaupun jawabannya salah, ibu tetap akan menerima bantuan telur dari desa”, kataku memberanikan diri yang disambut gelak ibu-ibu.

Selepas itu, pembicaraan semakin santai dan mereka lebih berani berbagi cerita.  

Ibu Yona Henrita yang berkerudung hitam dengan paduan baju merah jambu mengaku sangat terbantu dengan program bantuan makanan bergizi selama kehamilan keduanya. Katanya, bantuan yang diterima setiap minggu itu membuat gizi yang dibutuhkan dia dan anak dalam kandungannya tercukupi.

Kondisi bayi yang dilahirkan pada kehamilan kedua juga lebih besar dari kehamilan pertama. Jika pada kehamilan pertama, sebelum ada program percepatan penurunan stunting di desanya, ia melahirkan bayi dengan berat 2,7 kilogram (kg), namun pada kehamilan kedua, setelah ia menerima manfaat program, bayinya memiliki berat 3,3 kg.

“Manfaat program ini saya rasakan, Pak. Waktu hamil yang kedua, anak saya lebih sehat, karena selama kehamilan, setiap minggu saya dapat telur, sayur, susu, dan makan lain dari desa,” katanya. Ia juga mengaku bahwa keberadaan program tersebut membuat dia lebih tenang selama sembilan bulan kehamilan dan saat melahirkan.

Ia mengatakan, faktor ekonomi merupakan faktor utama yang membuat dia tidak bisa mengonsumsi makanan bergizi selama kehamilan sebelumnya. “Bukannya saya tidak mau makan makanan bergizi, Pak, tapi kan masalah ekonomi. Saya tidak punya uang untuk membeli susu, telur, dan makanan bergizi. Untungnya, kemarin (dalam kehamilan kedua) ada program dari desa,” katanya.

Yona bukanlah satu-satunya penerima manfaat program desa. Ibu Gita Wulansari, Yesi Susanti, Iyum Susilawati, dan Elfa Andriani merupakan ibu-ibu yang juga mendapat manfaat dari program percepatan penurunan stunting di desa itu. Bedanya, paket yang mereka dapatkan berbeda, karena mereka masuk kategori “ibu balita stunting“.

Berbeda dengan Ibu Yona Henrita yang menerima bantuan mingguan untuk “ibu hamil”, keempat ibu terakhir mendapat paket bantuan sebulan sekali. Bantuan itu ditujukan untuk meningkatkan gizi anak mereka yang masuk dalam data anak stunting di desa.

Namun, dengan itu mereka sangat bersyukur, karena mendapat perhatian dan bantuan secara langsung. Paket bantuan seperti itu hampir tidak mungkin dibeli sebulan sekali dengan kondisi ekonomi mereka yang pas-pasan.

Di desa lain, Desa Sungai Naniang Kecamatan Bukik Barisan, Kabupaten Lima Puluh Kota para penerima manfaat juga mengatakan bahwa program di desanya terasa manfaatnya. Selain bantuan makanan bergizi untuk anaknya, Ibu Sasmiyati mengaku edukasi mengenai parenting dan memasak makanan bergizi sangat bermanfaat, sehingga dia bisa menyediakan makanan yang variatif untuk anaknya yang susah makan.

“Saya bisa masak makanan yang bergizi dan dibentuk-bentuk begitu, sehingga anak saya lebih tertarik untuk makan. Karena kadang susah makan,” kata Sasmiyati di kantor Posyandu Desa Sungai Naniang.

 

Berawal dari sebutir telur

Paket bantuan yang diterima ibu Yona dan Sasmiyati merupakan produk dari program stunting di dua desa berbeda. Di desa pertama, program desa bernama Prosasa, sebuah akronim dari Program Satu-Satu. Program ini adalah gerakan untuk mengumpulkan satu butir telur dari satu keluarga setiap bulan.

Yefriandi, Kepala Desa Tanjuang Bungo mengatakan dalam paparannya bahwa program ini sudah berjalan lebih dari dua tahun. Kata dia, dalam praktiknya tidak semua orang mengumpulkan telur, namun ada pula yang memberi dalam bentuk uang. Paling kecil, masyarakatnya mengumpulkan uang dua ribu rupiah setiap bulannya. Namun tak sedikit yang menyumbang lebih dari itu.

Desifa Meiza, Sekretaris Desa Tanjuang Bungo, menjelaskan bahwa pengumpulan telur dan uang ini dilakukan oleh kader desa setiap awal bulan. Biasanya, kata dia, para kader datang ke rumah-rumah memungut telur dan uang ini, atau dikumpulkan di Posyandu atau tempat lain jika sedang ada pertemuan.

Sejalan dengan desa pertama, di desa kedua, program pengumpulan makanan bergizi bernama Gerbuting, akronim dari Gerakan Seribu untuk Stunting. Di desa kedua ini, setiap keluarga mengumpulkan uang seribu untuk membantu kelompok sasaran program stunting.

Kendati beda desa, persamaan dari keduanya adalah program ini dikelola oleh Rumah Desa Sehat, sebuah program untuk pelayanan kesehatan terutama terkait penurunan stunting di desa. Musyawarah “Rumah Desa Sehat” (RDS) sendiri merupakan forum advokasi kegiatan dan kesepakatan antara pelaku konvergensi stunting di tingkat desa.

Kegiatan musyawarah ini dilakukan dua kali setiap tahun, pada bulan April dan Oktober. Dalam kegiatan ini, dihadiri oleh perangkat nagari, bamus, pokja, kader Posyandu, kader PAUD, agamawan, kader pendamping Keluarga, karang taruna, Pokja Sehat, dasa wisma, kelompok perempuan, KPMD, Kader KPM, kelompok pengelola air minum dan sanitasi, serta Tim Penggerak PKK.

Selain RDS, inisiatif baik lainnya yang lebih mendasar adalah penilaian massal. Ini merupakan kegiatan validasi data di tingkat nagari yang dilakukan secara bersama antara kader Posyandu; BKB, guru PAUD, dan KPM. Kegiatan ini dilakukan secara rutin untuk memvalidasi data melalui pengukuran ulang anak yang terindikasi stunting, sekaligus mengidentifikasi faktor determinan yang didapat dari hasil pendataan ulang dan hasil dari data e-PPGBM.

Keberadaan program inilah yang menarik perhatian Kementerian PPN/Bappenas untuk melaksanakan kunjungan lapangan bersama kementerian/lembaga lain ke Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat pada 18-21 Oktober 2022. Kunjungan ini ditujukan untuk meninjau sejumlah program tersebut yang dianggap sebagai praktik baik yang direkomendasikan oleh Kementerian Dalam Negeri.

Secara rinci, kegiatan kunjungan lapangan ini dilaksanakan untuk melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan program dan kegiatan yang mendukung percepatan penurunan stunting di tingkat desa. Melalui kunjungan ini, diharapkan bahwa kegiatan praktik baik dan inovasi dapat terekam dengan baik dan didokumentasikan, sehingga bisa menjadi inspirasi daerah lain.

Selain Bappenas, terdapat sejumlah kementerian/lembaga yang terlibat dalam kunjungan tersebut. Di antaranya adalah Sekretariat Wakil Presiden, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Desa, Kementerian Keuangan, dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Kendati kunjungan ini memakan waktu yang lama dan menempuh jarak yang jauh, namun kunjungan ini memuaskan. Rombongan K/L yang datang dari Jakarta dapat melihat langsung praktik baik di Kabupaten Lima Puluh Kota. Faktanya, praktik baik itu tidak hanya terjadi di dua desa itu, namun di desa-desa lain.

Harapannya, praktik baik semacam ini tidak hanya terjadi di desa-desa di Kabupaten Lima Puluh Kota saja, namun dapat menular ke tempat lain, sehingga target nasional prevalensi stunting turun menjadi 14 persen pada tahun 2024 dapat tercapai. (aro/mw).

 

BAGIKAN

Baca Juga

Link Terkait