KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI

SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN

Pekan ASI Eksklusif Momen Ingatkan Bahaya Stunting

2 Agustus 2023 | Berita, Media

Poster kampanye World Breastfeeding Week (foto: https:awarenessdays.com)

Jakarta,- Minggu pertama bulan Agustus ini bertepatan dengan pekan menyusui sedunia. Tanggal 1-7 Agustus selalu diperingati sebagai World Breastfeeding Week di seluruh dunia, demi mengampanyekan pemberian ASI eksklusif bagi bayi selama enam bulan pertama kehidupannya. World Breastfeeding Week (WBW) pertama kali digagas oleh World Alliance for Breastfeeding Action (WABA) bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan UNICEF, dan pertama kali dirayakan pada tahun 1992 oleh WABA, bertujuan untuk mengingatkan publik tentang manfaat ASI bagi kesehatan bayi dan melindunginya dari berbagai penyakit mematikan.

Erat Kaitannya dengan Stunting
Kurangnya asupan ASI pada bayi erat kaitannya dengan stunting. Stunting disebabkan oleh buruknya asupan gizi, infeksi yang terjadi berulang, sanitasi buruk, dan pemberian makan yang tidak tepat. Hal itu terjadi ketika bayi dalam masa seribu hari pertama kehidupan. Ahli Kesehatan Masyarakat yang juga Chief Operating Officer Yayasan Seribu Cita Bangsa, dr. Rindang Asmara mengungkapkan, ASI eksklusif pada bayi memegang peran penting memenuhi kebutuhan gizi bayi. Selama enam bulan pertama kelahiran, direkomendasikan ASI eksklusif untuk memenuhi kebutugan gizi bayi, kemudian dapat dilanjutkan sampai anak berusia 2 tahun.

Pada usia 0-6 bulan bayi masih belum bisa mengonsumsi makanan padat apapun, sehingga ASI eksklusif menjadi pilihan paling tepat. Menurut Rindang, menyusui merupakan investasi terbaik demi kelangsungan hidup anak di masa mendatang. Kekurangan ASI dapat menyebabkan stunting. “Sekali anak stunted, bukan hanya tinggi badannya yang terdampak tapi perkembangan otaknya, juga kesehatannya secara menyeluruh,” ungkap dokter Riri. Secara teori, anak yang stunted akan mudah terkena penyakit-penyakit infeksi.

Sayangnya, prosentase ibu menyusui di Indonesia tidak begitu tinggi. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2021 angka ibu menyusui hanya sekitar 52,5 persen atau setengah dari 2,3 juta bayi berusia di bawah enam bulan yang mendapatkan ASI eksklusif di Indonesia. Jumlahnya itu menurun sebanyak 12 persen dari angka 2019. Tidak hanya pemberian ASI eksklusif yang mengalami penurunan, angka inisiasi menyusui dini (IMD) juga turun dari 58,2 persen pada 2019 menjadi 48,6 persen tahun 2021.

Turunnya angka menyusui ini disebabkan kegagalan multi faktor. Terdapat tiga hal yang dapat menjadi faktor kegagalan menyusui. Pertama, tidak adanya support atau dukungan dari anggota keluarga terdekat, misalnya suami. Pada momen awal setelah melahirkan mungkin ibu merasa kesulitan untuk memberikan ASI ke anak. Ini adalah tantangan yang harus dipecahkan, bukan dihindari dengan cara digantikan susu formula. Terdapat waktu sekitar tiga sampai empat hari yang bisa digunakan oleh tenaga kesehatan untuk membantu ibu yang akan menyusui. Pada tiga hari pertama, ibu yang baru melahirkan menghasilkan kolostrum yang mungkin tidak berpengaruh signifkan pada berat badan anak. Namun apabila si ibu menyusui lebih sering, maka bayi akan mencapai berat badan normal dalam di tujuh hari.

Untuk di perkotaan, faktor yang memicu kegagalan menyusui adalah kesibukan ibu, terutama yang harus bekerja di luar. Para wanita karir mungkin tidak punya waktu yang cukup untuk menyusui, baik karena tidak adanya ruangan yang bisa digunakan untuk menyusui, atau tidak ada waktu memompa ASI. (mjr/mw)

BAGIKAN

Baca Juga

Link Terkait