KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI

SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN

218.286 Balita Stunting di Jabar, Akses Makanan Bergizi Salah Satu Penyebab

22 Agustus 2022 | Berita, Media

BANDUNG- Provinsi Jawa Barat termasuk salah satu provinsi prioritas dalam percepatan penurunan stunting. Pasalnya, provinsi ini termasuk provinsi dengan angka Balita stunting terbanyak di Indonesia. Data SSGI 2021 menyebutkan prevalensi stunting Provinsi Jawa Barat mencapai 24,5 persen, sedikit di atas rata-rata angka stunting nasional, yaitu 24,4 persen.

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat Juanita Paticia Fatima mengungkapkan saat ini di Jawa Barat, terdapat 218.286 Balita yang mengalami stunting atau gangguan tumbuh kembang akibat kekurangan gizi kronis, sehingga anak terlalu pendek dalam ukuran usianya.

“Balita stunting yang ditemukan di Jabar berdasarkan data pengukuran di bulan Februari tahun 2022 adalah 218.286 Balita dari 3.095.299 Balita yang diukur dari tinggi badannya,” kata Juanita, Sabtu 20 Agustus 2022, dikutip dari Inews.id.

Juanita menambahkan, data SSGI menyebutkan dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat, terdapat 4 kabupaten/kota yang memiliki angka prevalensi stunting tinggi (30%-39,9%), yakni Kabupaten Garut, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bandung, dan Kota Cirebon.

“Rata-rata penurunan stunting dalam tiga tahun terakhir di Jabar, 1,35 persen per tahun,” ungkapnya.

Menghadapi hal tersebut, Dinkes Jabar telah melakukan berbagai langkah penanganan stunting lewat program intervensi spesifik dan sensitif. Intervensi spesifik antara lain pemberian Tablet Tambah Darah bagi ibu hamil dan remaja putri, promosi dan konseling menyusui.

Selain itu, pemberian makanan bayi, hingga suplementasi lewat pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil kurang energi kronik dan Balita gizi kurang.  “Sedangkan intervensi sensitif antara lain pelayanan Keluarga Berencana (KB) pascapersalinan pemeriksaan kesehatan yang merupakan bagian dari pelayanan pranikah dan meningkatkan cakupan rumah tangga untuk mendapatkan akses air minum layak di kabupaten/kota lokasi prioritas,” tutur Juanita.

Berbagai faktor menjadi penyebab banyaknya Balita stunting di Jabar, lanjut Juanita, di antaranya kurangnya akses makanan bergizi. Berdasarkan hasil Studi Diet Total 2014, asupan protein pada Balita di Jabar hanya 32,7 persen dari angka ideal 80 persen.

Kemudian, praktik pengasuhan yang kurang baik, seperti pemberian makanan bagi bayi dan anak yang tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan pemerintah. “Kemudian ada juga fenomena pola pengasuhan untuk merangsang perkembangan. Salah satunya dengan mengenalkan HP bagi anak yang masih Balita,” ucapnya.

Faktor penyebab terbesar stunting di Jabar adalah terbatasnya akses mendapatkan air bersih layak. Pada tahun 2021, akses air bersih layak di Jabar baru mencapai 87,79 persen.

“Selain itu, sanitasi yang layak. Saat ini, baru tiga kabupaten di Jabar yang telah dinyatakan bebas buang air besar sembarangan, yakni Kabupaten Bandung Barat, Subang, dan Kabupaten Sukabumi,” ujar Juanita.[]

BAGIKAN

Baca Juga

Link Terkait