KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI

SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN

Gambaran Umum

Tren stunting di Provinsi Sumatera Utara menunjukkan dinamika yang belum stabil. Prevalensi menurun dari 32,4% pada 2018 menjadi 18,9% pada 2023, namun kembali meningkat menjadi 22% pada 2024. Secara kumulatif telah terjadi penurunan 10,4 poin dalam enam tahun terakhir, tetapi kenaikan pada tahun terakhir menunjukkan tren perbaikan yang belum konsisten. Angka ini masih berada di atas rata-rata nasional (19,8%). Dengan prevalensi tersebut, diperkirakan sekitar 294.934 balita di Sumatera Utara mengalami stunting pada 2024.

Secara kewilayahan, 7 dari 33 kabupaten/kota masih mencatat prevalensi di atas 30%. Dari sisi pembiayaan, alokasi anggaran stunting tahun 2024–2025 lebih banyak diarahkan pada intervensi spesifik dibandingkan intervensi sensitive dan enabling. Namun beberapa kabupaten/kota serapannya tercatat rendah, bahkan di bawah 40 %. Ketimpangan serapan anggaran oleh kabupaten/kota juga masih lebar, yaitu berkisar antara 32,05 % – 129,83 %.

Fokus Perhatian Berdasarkan Data

1. Beberapa indikator intervensi kunci masih berada di bawah target cakupan, terutama pada:

  • Pemeriksaan kehamilan minimal 6 kali 
  • Konsumsi TTD ≥90 tablet selama kehamilan 
  • Pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil 
  • Inisiasi Menyusu Dini 
  • Imunisasi dasar lengkap usia 12–23 bulan 
  • Konsumsi makanan beragam usia 6–23 bulan 
  • Pemberian makanan tambahan bagi balita bermasalah gizi 
  • Penimbangan balita sesuai standar 
  • Partisipasi PAUD
  • Pencegahan ISPA pada anak usia 0–59 bulan.

2. Pola prevalensi menurut kelompok umur menunjukkan peningkatan tajam setelah usia 12 bulan. Prevalensi tercatat 9,3% (0–11 bulan), 24,1% (12–23 bulan), 27,5% (24–35 bulan), 24,1% (36–47 bulan), dan 22,1% (48–60 bulan). Pola ini mengindikasikan bahwa risiko stunting meningkat signifikan setelah anak melewati usia satu tahun, terutama pada fase 12–35 bulan.

Pembelajaran Awal

  • Penurunan signifikan sejak 2018 menunjukkan bahwa intervensi yang dilakukan telah memberi dampak, namun kenaikan kembali pada 2024 menandakan perlunya konsistensi dan penguatan kualitas implementasi agar tren perbaikan tidak berfluktuasi.
  • Peningkatan prevalensi setelah usia 12 bulan serta masih rendahnya layanan ibu hamil menunjukkan perlunya penguatan pencegahan stunting secara berkelanjutan sejak kehamilan hingga usia 6–24 bulan melalui perbaikan layanan kesehatan, praktik pemberian makan, imunisasi, dan pemantauan pertumbuhan.
  • Disparitas antar kabupaten/kota yang masih mencatat prevalensi di atas 30% menunjukkan bahwa capaian provinsi belum merata. Diperlukan pendekatan berbasis prioritas wilayah, dengan pendampingan dan penguatan implementasi pada daerah dengan beban tertinggi.
  • Penyelarasan alokasi anggaran dengan indikator layanan yang masih lemah, terutama pada intervensi kesehatan ibu dan anak, menjadi penting agar pembiayaan lebih tepat sasaran dan mendukung percepatan penurunan stunting

Dokumen lengkap Stunting dalam Angka Provinsi Sumatera Utara menyajikan rincian data prevalensi, distribusi wilayah, capaian indikator program, analisis median berat badan menurut umur, serta rekomendasi spesifik wilayah. Data ini dapat dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dan evaluasi program percepatan penurunan stunting.

Dokumen lengkap dapat diunduh melalui tautan berikut: