KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI

SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN

Gambaran Umum

Prevalensi stunting di Provinsi Sulawesi Tenggara menunjukkan pola yang cenderung fluktuatif. Angka prevalensi turun dari 28,7% pada tahun 2018 menjadi 26,1% pada tahun 2024, namun selama periode tersebut sempat meningkat hingga mencapai 31% pada tahun 2019. Kondisi ini menunjukkan bahwa penurunan belum berlangsung konsisten. Saat ini diperkirakan terdapat sekitar 70.212 balita yang mengalami stunting di Sulawesi Tenggara.

Secara kewilayahan, seluruh kabupaten/kota di Sulawesi Tenggara masih memiliki prevalensi di atas 20%, dengan tiga kabupaten mencatat prevalensi mencapai 30%. Dari 17 kabupaten/kota, sebanyak 12 daerah menunjukkan tren penurunan. Namun demikian, terdapat 5 daerah yang justru mengalami kenaikan prevalensi. Untuk aspek pembiayaan, proporsi anggaran stunting tahun 2024 dan 2025 lebih banyak dialokasikan untuk intervensi spesifik. Namun, realisasi serapan anggaran masih menunjukkan disparitas yang cukup lebar, dengan kisaran antara 31,8% hingga 107,6%. Halini mengindikasikan adanya tantangan dalam konsistensi pelaksanaan dan pengendalian program di tingkat kabupaten/kota. 

Fokus Perhatian Berdasarkan Data

1. Terdapat faktor determinan yang cakupan layanannya belum memenuhi target minimal, yaitu :
– Ibu hamil: pemeriksaan kehamilan 6x, konsumsi TTD ≥90 tablet selama kehamilan dan mendapatkan makanan tambahan
– Bayi yang mendapatkan Inisiasi Menyusu Dini
– Anak usia 12-23 bulan yang mendapatkan imunisasi dasar lengkap
– Anak usia 6-23 bulan yang mengonsumsi makanan beragam
– Anak umur 6-59 bulan yang mendapatkan makanan tambahan
– Anak usia dini yang pernah/ sedang mengikuti PAUD
– Pencegahan Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada anak umur 0-59 bulan
2. Berdasarkan kelompok umur, prevalensi stunting berturut-turut 30% (24-35 bulan), 27,5% (48-60 bulan), 27,4% (36-47 bulan), 26,5% (12-23 bulan), dan 15,3% (0-11 bulan). Ini artinya anak di Sultra rentan menjadi stunting saat memasuki umur 12 bulan.

Catatan Pembelajaran Awal

  • Arah penurunan prevalensi menunjukkan fluktuatif berimplikasi pada perlunya penguatan konsistensi intervensi lintas tahun agar capaian tidak bersifat sementara.
  • Perbedaan capaian antar kabupaten/kota menunjukkan adanya variasi kapasitas implementasi dan efektivitas program, sehingga diperlukan pendekatan berbasis prioritas wilayah dengan strategi afirmatif bagi daerah berisiko tinggi.
  • Komposisi pembiayaan yang telah mengarah pada intervensi utama belum sepenuhnya diikuti oleh konsistensi realisasi, sehingga diperlukan penajaman perencanaan, pengendalian, dan mekanisme akuntabilitas agar alokasi anggaran lebih selaras dengan perbaikan indikator layanan.
  • Sejumlah indikator layanan esensial ibu dan anak belum mencapai cakupan optimal, yang mengindikasikan tantangan pada kapasitas pelaksanaan, mutu layanan, serta efektivitas penjangkauan sasaran.
  • Risiko stunting meningkat setelah anak memasuki fase transisi pemberian makanan pendamping, menegaskan pentingnya kesinambungan intervensi sejak masa kehamilan, kelahiran, hingga usia dua tahun sebagai periode emas yang menentukan tanpa mengabaikan fase usia selanjutnya.

Dokumen lengkap Stunting dalam Angka Provinsi Sulawesi Tenggara menyajikan rincian data prevalensi, distribusi wilayah, capaian indikator program, analisis median berat badan menurut umur, serta rekomendasi spesifik wilayah. Data ini dapat dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dan evaluasi program percepatan penurunan stunting.

Dokumen lengkap dapat diunduh melalui tautan berikut: