KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI

SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN

Gambaran Umum

Data prevalensi stunting Provinsi Papua Barat Daya tersedia mulai tahun 2023. Dalam periode 2023–2024, prevalensi stunting relatif tetap di kisaran 30%. Kondisi ini menunjukkan bahwa penurunan belum terlihat secara signifikan dan tantangan masih cukup besar pada fase awal pemekaran provinsi. Secara kewilayahan, dari 6 kabupaten/kota, sebanyak 4 daerah menunjukkan tren penurunan prevalensi. Namun demikian, terdapat 2 daerah yang justru mengalami kenaikan prevalensi dengan lonjakan yang cukup besar. Dilihat dari tingkat prevalensi, sebagian kabupaten/kota masih berada pada kategori tinggi (>30%), sementara lainnya berada pada kategori medium (>20%). Hal ini menunjukkan adanya variasi beban stunting antarwilayah yang cukup tajam. Dari aspek pembiayaan, proporsi anggaran stunting tahun 2024 dan 2025 lebih banyak dialokasikan untuk intervensi spesifik, namun alokasi tahun 2025 tidak sepenuhnya proporsional terhadap tingkat prevalensi antar daerah. Realisasi serapan anggaran juga menunjukkan kesenjangan yang lebar, dengan kisaran antara 16,1% hingga 97,7%.

Fokus Perhatian Berdasarkan Data

  1. Terdapat faktor determinan yang cakupan layanannya belum memenuhi target minimal, terutama :
  • Ibu hamil  : pemeriksaan kehamilan 6x, konsumsi TTD ≥90 tablet dan makanan tambahan
  • Ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan 6x selama kehamilan
  • Ibu hamil menerima TTD ≥90 tablet selama kehamilan
  • Ibu hamil mengonsumsi TTD ≥90 tablet selama kehamilan
  • Ibu hamil mendapatkan makanan tambahan
  • Bayi yang mendapatkan Inisiasi Menyusu Dini
  • Anak usia 12-23 bulan yang mendapatkan imunisasi dasar lengkap
  • Anak usia 6-23 bulan yang mengonsumsi makanan beragam
  • Anak umur 6-59 bulan yang mendapatkan makanan tambahan
  • Anak usia dini yang pernah/ sedang mengikuti PAUD
  • Pencegahan Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada anak umur 0-59 bulan
  1. Berdasarkan kelompok umur, prevalensi stunting berturut-turut 35,5% (24-35 bulan), 33,8% (36-47 bulan), 31,2% (48-60 bulan), 28,7% (12-23 bulan), dan 21,2% (0-11 bulan). Ini artinya anak stunting di Papua Barat Daya rentan mengalami stunting sejak dilahirkan, dan risikonya bertambah dengan bertambahnya umur. Ini juga menjadi penanda bahwa ibu hamil mengalami masalah kesehatan atau kurang gizi selama kehamilannya.

Catatan Pembelajaran Awal

  • Prevalensi yang belum menunjukkan penurunan menandakan intervensi perlu diperkuat dan lebih terfokus pada wilayah dengan beban tinggi.
  • Capaian belum merata dan memerlukan pemetaan masalah yang lebih spesifik sesuai karakteristik masing-masing wilayah, termasuk aspek akses layanan dan kapasitas tata kelola program.
  • Pola prevalensi menurut kelompok umur menunjukkan bahwa kerentanan sudah muncul sejak awal kehidupan dan meningkat seiring bertambahnya usia. Ini menjadi penanda pentingnya perbaikan kondisi kesehatan dan gizi ibu sebelum dan selama kehamilan, serta penguatan layanan pada masa bayi dan baduta, termasuk pemeriksaan kehamilan yang berkualitas, kepatuhan konsumsi TTD, pemberian makanan tambahan, IMD, imunisasi dasar lengkap, dan praktik pemberian makan anak yang sesuai.
  • Alokasi dan serapan anggaran perlu lebih selaras dengan tingkat kebutuhan serta diperkuat melalui perencanaan dan pengendalian yang lebih efektif agar berdampak nyata.

Dokumen lengkap Stunting dalam Angka Provinsi Papua Barat Daya menyajikan rincian data prevalensi, distribusi wilayah, capaian indikator program, analisis median berat badan menurut umur, serta rekomendasi spesifik wilayah. Data ini dapat dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dan evaluasi program percepatan penurunan stunting.

Dokumen lengkap dapat diunduh melalui tautan berikut: