Angka prevalensi stunting di Kalimantan Utara telah turun dari 26,9% pada 2018 menjadi 17,6% pada 2024, atau berkurang 9,3 poin persentase (sekitar 1,5 poin per tahun). Capaian ini menempatkan Kalimantan Utara dalam kategori prevalensi rendah dan berada di bawah rata-rata nasional (19,8%). Secara absolut, diperkirakan masih terdapat sekitar 11.419 balita yang mengalami stunting, sehingga kesinambungan upaya percepatan tetap diperlukan.
Secara kewilayahan, masih terdapat 2 dari 5 kabupaten/kota dengan prevalensi kategori sedang (di atas 20%), meskipun sebagian besar wilayah menunjukkan tren penurunan prevalensi. Kondisi ini menunjukkan bahwa kemajuan telah terjadi secara umum, namun masih terdapat wilayah yang memerlukan perhatian lebih terarah. Dari sisi pembiayaan, anggaran stunting pada tahun 2024 dan 2025 umumnya lebih banyak dialokasikan untuk intervensi spesifik, meskipun terdapat beberapa daerah yang mengalokasikan lebih besar pada intervensi sensitif. Proporsi alokasi anggaran juga belum sepenuhnya selaras dengan tingkat prevalensi antarwilayah. Sementara itu, realisasi anggaran tahun 2024 menunjukkan variasi yang cukup lebar, dengan capaian tertinggi mencapai 101,0% dan terendah 39,7%, yang mencerminkan adanya perbedaan kapasitas penyerapan dan efektivitas pelaksanaan program antar daerah.
Fokus Perhatian Berdasarkan Data
- Masih terdapat cakupan layanan esensial yang berada di bawah target, terutama pada intervensi sejak masa kehamilan hingga usia balita. Hal ini mencakup :
- Pemeriksaan kehamilan
- Konsumsi tablet tambah darah
- Pemberian makanan tambahan
- Praktik menyusui dini
- Imunisasi dasar
- Pemantauan pertumbuhan
- Partisipasi PAUD
- Pencegahan penyakit infeksi.
- Berdasarkan kelompok umur, prevalensi stunting tertinggi terdapat pada usia 12–23 bulan (21,7%), diikuti usia 36–47 bulan (20,1%) dan 48–60 bulan (17,4%), serta lebih rendah pada usia di bawah 12 bulan (10,9%). Pola ini menunjukkan bahwa risiko stunting meningkat setelah usia 12 bulan, sehingga periode transisi menuju MPASI menjadi fase penting untuk diperkuat melalui intervensi gizi dan kesehatan yang konsisten.
Catatan Pembelajaran Awal
- Arah penurunan prevalensi menunjukkan kemajuan yang positif dan konsisten. Tantangannya adalah menjaga keberlanjutan tren tersebut agar penurunan tidak melambat dan tetap sejalan dengan target nasional.
- Masih belum optimalnya sebagian layanan esensial serta meningkatnya risiko setelah usia bayi menegaskan perlunya penguatan mutu, konsistensi, dan integrasi layanan secara berkelanjutan sejak masa kehamilan hingga usia dua tahun, sebagai fase paling krusial dalam pencegahan stunting.
- Masih adanya wilayah dengan tingkat prevalensi lebih tinggi menunjukkan bahwa capaian belum sepenuhnya merata, sehingga pendekatan berbasis prioritas wilayah perlu diperkuat.
- Komposisi dan realisasi anggaran yang belum sepenuhnya selaras dengan kebutuhan wilayah menunjukkan pentingnya peningkatan ketepatan perencanaan, penargetan, dan pengendalian pelaksanaan agar pembiayaan lebih berdampak pada indikator layanan yang masih lemah.
Dokumen lengkap Stunting dalam Angka Provinsi Kalimantan Utara menyajikan rincian data prevalensi, distribusi wilayah, capaian indikator program, analisis median berat badan menurut umur, serta rekomendasi spesifik wilayah. Data ini dapat dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dan evaluasi program percepatan penurunan stunting.


