KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI

SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN

Air Minum Aman Untuk Semua, Langkah Penting Wujudkan Generasi Bebas Stunting

30 Maret 2026 | Berita, Media

Sumber: Pokja PPAS/Bappenas

Akses terhadap air minum aman merupakan kebutuhan dasar setiap orang. Tidak hanya digunakan untuk minum tapi juga untuk memasak, mandi, cuci, hingga untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Tetapi sayangnya hingga kini masih banyak masyarakat dunia, termasuk masyarakat Indonesia yang belum memiliki akses air minum.

Dikutip dari laman resmi un.org, sekitar 2,1 miliar orang di dunia belum memiliki akses air minum aman. Sementara itu, Hasil Studi Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT), Kementerian Kesehatan 2020 mencatat, capaian akses air minum aman berada di angka 11,8 persen. Kedua kondisi ini menunjukkan bahwa penyediaan akses air minum aman masih menjadi tantangan dan butuh dukungan dari banyak pihak.

Dalam upaya penyediaan akses air minum aman, Pemerintah telah berkomitmen mencapai target global Sustainable Development Goals (SDGs)/Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) 2030 pada tujuan 6, yaitu mewujudkan akses air minum aman yang berkelanjutan untuk semua. Target tersebut pun telah diselaraskan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 yang berkomitmen untuk mencapai 42,5 persen rumah tangga dengan akses air minum aman.

Setiap tahunnya, Hari Air Sedunia diperingati pada tanggal 22 Maret.  Momentum ini menjadi pengingat untuk memastikan ketersediaan akses yang setara bagi semua lapisan masyarakat. Mengangkat tema “Air dan Gender”  peringatan tahun ini fokus menyoroti bagaimana keterkaitaan antara keterserdiaan akses dan kesetaraan gender.

Dalam laman un.org dijelaskan tema ini diangkat karena di sejumlah wilayah dengan kondisi keterbatasan akses air minum dan sanitasi, ketidaksetaraan masih banyak terjadi, dimana perempuan dan anak perempuan menanggung beban terberat.

Perempuan dan anak perempuan mengumpulkan air, mengelola, bahkan mereka juga yang biasanya merawat orang sakit akibat keterbatasan akses air minum. Para perempuan di banyak tempat dikabarkan mengalami kehilangan waktu, kesehatan, keamanan, hingga kesempatan. Kondisi ini menjadikan krisis air sebagai krisis perempuan dan gender.

Tema ini ingin bertujuan mengkampanyekan pentingnya pendekatan transformatif berbasis hak, dengan perempuan diberikan kesempatan dalam bersuara dan berpartisipasi dalam pengelolan sumber daya air, sehingga memiliki kesempatan yang setara.

Data UN Women/UNDESA 2024, menunjukkan di 53 negara, perempuan dan anak perempuan menghabiskan waktu tiga kali lebih banyak dibandingkan laki-laki dan anak laki-laki untuk mengumpulkan air. Sementara itu, berdasarkan studi formatif USAID IUWASH Plus 2017, sebanyak 54 persen kebutuhan air minum keluarga dikumpulkan oleh perempuan

Data diatas memperlihatkan adanya keterkaitan erat antara ketersediaan akses air minum dengan kehidupan perempuan. Ketika akses air minum mudah dan aman, perempuan dapat menghemat waktu dan tenaga, sekaligus akan lebih fokus menjaga kesehatan keluarga. Karena itu, keterlibatan perempuan dalam perencanaan, penganggaran, dan pengambilan keputusan dalam sektor air minum menjadi sangat penting.

Air minum aman adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa pengelohan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Dalam pencegahan stunting, air minum aman termasuk dalam intervensi sensitif, yaitu upaya tidak langsung yang bisa memengaruhi kesehatan diri dan lingkungan.

Ketersediaan air minum aman berperan penting dalam menjaga kesehatan ibu dan anak. Air yang tercemar terbukti menjadi sumber penularan penyakit berbasis air, seperti diare, disentri, hingga kolera.

Pada anak-anak, infeksi yang terjadi berulang dapat mengganggu proses penyerapan zat gizi dalam tubuh. Ketika anak sering mengalami infeksi, tubuhnya akan fokus melawan penyakit dibandingkan menyerap nutrisi yang dibutuhkan pertumbuhan, sehingga berpotensi menyebabkan stunting.

Ketersediaan akses air minum aman tentunya juga bermanfaat untuk menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan yang bisa membantu menurunkan risiko paparan kuman dan bakteri yang menimbulkan penyakit untuk bisa membantu menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secaa optimal.

Selain mendukung pemerataan akses air minum aman bagi semua, sebagai masyarakat kita juga dapat berperan aktif dalam menjaga kualitas sumber air. Adapun aksi-aksi yang bisa dilakukan adalah tidak buang air besar sembarangan, terutama di sumber air, serta memiliki akses sanitasi aman dengan toilet lengkap tangki septik yang rutin disedot berkala setiap 3-5 tahun sekali melalui layanan resmi.

Langkah lainnya dengan tersambung ke layanan air minum perpipaan/ PDAM, tidak membuang sampah di sungai, tidak menebang pohon sembarang, dan melakukan penanaman pohon sebagai langkah nyata menjaga sumber air minum.

Melalui kolaborasi  antara Pemerintak, mitra, dan semua lapisan masyarakat harapannya ketersediaan akses air minum dapat terus ditingkatkan, sehingga kesehatan diri dan lingkungan sebagai upaya pencegahan stunting dapat berjalan optimal.

Mari jadikan momentum peringatan Hari Air Sedunia ini menjadi pengigat bahwa akses air minum aman bukan sekadar kebutuhan dasar, tetapi menjadi bagian penting untuk mendukung kesehatan diri dan keluarga guna mewujudkan masa depan generasi sehat yang berkualitas dan bebas dari stunting.

BAGIKAN

Baca Juga

Link Terkait