KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI

SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN

Gambaran Umum

Tren prevalensi stunting di Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) belum menunjukkan penurunan signifikan yaitu dari 33.3% di tahun 2018 ke 26,8% di tahun 2024. Selama 6 tahun terakhir, penurunannya sebesar 6,5% poin atau sekitar 1% poin per tahunnya. Meskipun di tahun 2023 prevelansi di Kalbar pernah turun hingga 20,6% namun di tahun 2024 kembali naik menjadi 26,8%. Saat ini diperkirakan ada 117.521 balita yang mengalami stunting di Kalbar.

Secara kewilayahan, dari 14 kabupaten/kota di Kalbar tercatat 4 di antaranya memiliki revalensi yang masih tinggi (>30%). Dari tren penurunan stunting sebanyak 12 kabupaten/kota menunjukan penurunan, 1 stagnan dan 1 malah mengalami kenaikan. Dari aspek anggaran, secara umum kabupaten/kota di Kalbar lebih banyak mengalokasikannya untuk intervensi spesifik (2024-2025) dibanding enabling dan intervensi. Namun, dari aspek realisasi penyerapan anggaran pada 2024 terpantau timpang, berkisar dari 49,1% – 111,0%.

Fokus Perhatian Berdasarkan Data

  1. Terdapat faktor determinan yang cakupan layanannya belum mencapai target minimal yang diharapkan, terutama :
  • Ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan 6x
  • Ibu hamil mengonsumsi ≥90 tablet selama kehamilan
  • Ibu hamil mendapatkan makanan tambahan
  • Bayi yang mendapatkan Inisiasi Menyusu Dini
  • Anak 12-23 bulan yang mendapatkan imunisasi dasar lengkap
  • Anak usia 6-23 bulan mengonsumsi makanan beragam
  • Anak umur 6-59 bulan yang mendapatkan makanan tambahan
  • Anak usia dini yang pernah/ sedang mengikuti PAUD
  • Pencegahan Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada anak umur 0-59 bulan
  1. Berdasarkan kelompok umur, prevalensi stunting berturut-turut 32,2% (24-35 bulan), 29,3% (36-47 bulan), 26,6% (48-60 bulan), 26,1% (12-23 bulan), dan 16,7% (0-11 bulan). Ini artinya anak di Kalbar rentan menjadi stunting saat memasuki umur 2 tahun dan risikonya bertambah seiring bertambah umur.

Catatan Pembelajaran Awal

  • Penurunan prevalensi belum stabil dan cenderung fluktuatif menunjukkan konsistensi dan keberlanjutan intervensi menjadi isu kunci.
  • Masih terdapat kabupaten dengan prevalensi tinggi serta variasi tren (menurun, stagnan, dan meningkat), ditambah ketimpangan realisasi anggaran, yang menunjukkan perlunya penguatan tata kelola, pengendalian kinerja, dan pendampingan lebih intensif pada wilayah prioritas.
  • Belum tercapainya beberapa target cakupan pada layanan esensial ibu dan anak menandakan tantangan pada mutu dan konsistensi implementasi layanan dasar, sehingga penguatan kapasitas layanan dan monitoring capaian menjadi prioritas.
  • Risiko stunting meningkat setelah anak memasuki usia dua tahun dan terus berlanjut hingga usia lima tahun, menegaskan pentingnya intervensi berkelanjutan sejak kehamilan dengan prioritas pada periode 1.000 HPK tanpa mengabaikan fase usia berikutnya. 

Dokumen lengkap Stunting dalam Angka Provinsi Kalimantan Barat menyajikan rincian data prevalensi, distribusi wilayah, capaian indikator program, analisis median berat badan menurut umur, serta rekomendasi spesifik wilayah. Data ini dapat dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dan evaluasi program percepatan penurunan stunting.

Dokumen lengkap dapat diunduh melalui tautan berikut: