KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI

SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN

Stunting Bukan Keturunan, Genetik Berpengaruh Tapi Bukan Penentu

14 April 2026 | Berita, Media

Hingga kini, masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa stunting terjadi karena faktor keturunan. Anak yang bertubuh pendek kerap dianggap wajar apabila orang tua atau keluarganya juga memiliki postur serupa.

Pandangan ini menyebabkan stunting sering dianggap sebagai kondisi normal dan tidak memerlukan perhatian khusus.Akibatnya, upaya penanganan sering terlambat dan tidak optimal. Padahal, stunting bukan hanya persoalan tinggi badan.

Dikutip dari situs resmi Kemenkes, ayosehat.go.id, stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi, terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yaitu sejak dari dalam kandungan hingga anak usia dua tahun. Stunting tidak hanya menyebabkan anak gagal tumbuh dan pendek, tapi berdampak pada perkembangan otak dan daya tahan tubuh, sehingga anak lebih rentan terkena penyakit.

Teori H.L Blum, 1974 menyatakan, terdapat empat faktor penentu derajat kesehatan seseorang, yaitu faktor lingkungan 40%, faktor perilaku 30%,  faktor layanan kesehatan 20%, dan faktor keturunan 10%. Teori ini memperlihatkan bahwa faktor keturunan memiliki pengaruh paling kecil dibandingkan faktor lainnya.

Teori Blum diperkuat oleh teori plasticity of type dari Franz Boas, 1912, yang didasarkan pada penelitian terhadapanak-anak imigran Eropa yang lahir dan dibesarkan di Amerika. Penelitian Boas menunjukkan bahwa pertumbuhan fisik anak sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, asupan gizi, pelayanan kesehatan, dan kondisi tempat tinggal, bukan semata-mata oleh keturunan.

Dengan demikian, kedua teori menegaskan, tidak semua anak bertubuh pendek mengalami stunting. Faktor genetik memang berpengaruh, tetapi tidak otomatis menyebabkan stunting. Namun, anak yang mengalami stunting umumnya memiliki tubuh lebih pendek dari standar usianya.

Perlu dipahami, stunting bukan semata-mata disebabkan oleh keturunan. Banyak faktor lain yang lebih berpengaruh, seperti asupan gizi, pemberian ASI eksklusif, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, serta ketersediaan akses air bersih dan sanitasi aman.

Kendati demikian, pemahaman tersebut sayangnya belum sepenuhnya dimiliki masyarakat.  Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI), 2023 menunjukkan, baru 69,4% masyarakat yang memiliki pengetahuan yang benar tentang anak stunting. Bahkan, data yang sama mencatat masih ada 25,1% masyarakat yang meyakini bahwa stunting terjadi karena faktor keturunan.

Saatnya Ubah Cara Pandang

Jika persepsi ini terus dibiarkan, upaya pencegahan stunting berisiko terhambat dan tidak berjalan optimal. Padahal sejumlah bukti ilmiah menunjukkan upaya stunting bisa dicegah, terutama jika dilakukan intervensi sejak dini.

Dikutip dari antaranews.com, pakar kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Prof. Endang L. Achadi, menegaskan bahwa stunting tidak sama dengan anak pendek yang disebabkan oleh faktor genetik.

Dia pun menyayangkan masih adanya pemahaman yang tidak tepat di masyarakat karena beranggapan anak dengan tubuh pendek mengikuti potensi genetik orang tuanya yang tidak tinggi. “Padahal, stunting bukan semata pada ukuran fisik, tapi konsep terjadinya stunting bersamaan dengan proses terjadinya hambatan pertumbuhan dan perkembangan organ,” jelasnya.

Prof. Endang memaparkan, stunting menyebabkan gagalnya pertumbuhan organ, termasuk perkembangan otak, sehingga dampaknya tidak hanya pada individu yang bersangkutan, namun juga pada kondisi SDM suatu negara. “Gagalnya pertumbuhan organ tersebut juga membuat anak stunting memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit, khusunya yang berkaitan dengan gangguan kesehatan organ tubuh, seperti hipertensi, gagal ginjal, jantung koroner, hingga diabetes melitus,” tambahnya.

Penyataan ini menegaskan bahwa stunting bukanlah takdir yang tidak dapat dihindari. Stunting adalah kondisi yang bisa dicegah dengan langkah-langkah tepat sejak awal kehidupan. Penerapan perilaku hidup sehat dan bersih, pola asuh yang baik, konsumsi makanan bergizi dan beragam, serta kondisi lingkungan harus diperhatikan agar anak dapat tumbuh optimal dan bebas dari stunting.

Cara Cegah Stunting

Dalam pencegahan stunting, ada banyak aksi yang bisa dilakukan. Kementerian Kesehatan melalui laman ayosehat.go.id, memperkenalkan aksi ABCDE guna mencegah stunting sejak dini,  yaitu A, aktif minum konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD)/ Multiple Micronutrient Supplement (MMS) bagi remaja perempuan dan ibu hamil; B, ibuhamil teratur periksa kehamilan minimal enam kali, dengan dua kali dilakukan oleh dokter dan menggunakan USG; C, cukupi konsumsi protein hewani, khususnya bagi bayi usia di atas 6 bulan disarankan untuk konsumsi protein setiap hari; D,  datang ke posyandu setiap bulan untuk pemantauan tumbuh kembang, termasuk imunisasi rutin lengkap; dan E, ekslusif ASI 6 bulan dan dilanjutkan hingga usia 2 tahun.

Dengan memahami hal ini dan mengetahui cara pencegahan stunting, diharapkan semua pihak, termasuk keluarga dapat berperan lebih aktif dalam memastikan semua anak Indonesia tumbuh sehat, cerdas, dan berdaya saing.

Sejalan dengan tema Hari Kesehatan Sedunia 2026 “Bersama untuk Kesehatan, Berdiri Bersama Sains,” kita diingatkan bahwa upaya menjaga kesehatan dan pencegahan stunting harus berbasis ilmu pengetahuan agar langkah yang dilakukan bisa tepat dan optimal.

 

Sumber:

  1. https://blog.fkm.unej.ac.id/stunting-bukan-faktor-keturunan/
  2. https://dppkbpppa.pontianak.go.id/informasi/berita/kondisi-tubuh-anak-yang-pendek-seringkali-dikatakan-sebagai-faktor-keturunan-genetik-stunting
  3. https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/ners/article/download/18847/17097/78661
  4. https://sulteng.antaranews.com/berita/141294/pakar-sebut-stunting-bukan-pendek-karena-genetik-atau-kerdil
  5. https://www.halodoc.com/artikel/anak-bertubuh-pendek-belum-tentu-stunting-ini-penjelasannya?srsltid=AfmBOoo_CuAgoiayFMfzcB7pIwLTJ4uQB36rnFAmmLRWK1AJB-Bllwx6
BAGIKAN

Baca Juga

Link Terkait