KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI

SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN

Perkuat Peran Perempuan Untuk Generasi Bebas Stunting

9 Maret 2026 | Berita, Media

Stunting merupakan permasalahan gizi kronis yang masih banyak dialami anak Indonesia. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 mencatat prevalensi stunting nasional berada di angka 19,8 persen. Kondisi ini menunjukkan sekitar 2 dari 10 anak Indonesia usia 0-59 bulan mengalami stunting.

Sebagai upaya percepatan penurunan stunting, Pemerintah pun memperkuat komitmen dan kolaborasi multipihak.  Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming dalam arahannya pada Rapat Koordinasi Percepatan Penurunan Stunting 2025 menegaskan bahwa stunting akan tetap menjadi prioritas nasional. “Penanganan stunting harus komprehensif. Untuk itu kolaborasi dan koordinasi yang baik dari semua pihak diperlukan,” ungkapnya.

Sejalan dengan visi pembangunan menuju Indonesia Emas 2045, Pemerintah menargetkan capaian stunting di angka 5 persen. Untuk mencapai target ini tentu butuh dukungan dan keterlibatan semua pihak, termasuk masyarakat.

Di tengah berbagai upaya yang dilakukan, perempuan memiliki peranan penting dalam pencegahan stunting. Momentum Hari Perempuan Internasional menjadi pengingat bahwa ketika perempuan didukung dan diberdayakan, maka kesehatan keluarga dan masa depan anak-anak pun ikut terjaga.

Mengangkat tema “Give To Gain” peringatan International Women Day tahun ini menekankan pentingnya dukungan kepada semua perempuan agar dapat menjalankan perannya secara optimal.

Dalam keseharian, perempuan sering kali menjadi penggerak utama kesehatan keluarga, mulai dari menyiapkan makanan bergizi, memastikan anak mendapatkan imunisasi, hingga rutin memantau tumbuh kembang di posyandu atau pusat kesehatan lain. Peran tersebut menjadikan perempuan berada di garda terdepan dalam upaya pencegahan stunting.

Bukan sekadar berdampak buruk pada kesehatan anak, stunting juga menjadi hambatan perkembangan kognitif, motorik, hingga gangguan metabolisme. Dalam jangka panjang, stunting bisa berdampak pada menurunnya kapasitas intelektual karena mengganggu perkembangan otak dan fungsi saraf.

Lebih dari itu, anak stunting juga memiliki risiko terkena penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, jantung dan stroke yang lebih tinggi dibandingkan anak tanpa stunting. Karena itu, pencegahannya harus dilakukan sejak dini, bahkan sebelum seorang anak lahir.

Peran perempuan dalam upaya pencegahan stunting sudah dimulai sejak masa remaja. Remaja perempuan perlu mendapatkan asupan gizi seimbang dan rutin mengonsumsi tablet tambah darah untuk mencegah anemia. Kondisi anemia pada remaja putri berisiko berlanjut saat hamil dan dapat memengaruhi kesehatan ibu serta janin.

Memasuki masa kehamilan, perannya semakin krusial. Ibu hamil dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan kehamilan minimal enam kali, mengonsumsi tablet tambah darah atau multiple micronutrient supplement (MMS) minimal 180 tablet, serta mengikuti konseling gizi dan persiapan menyusui.

Edukasi yang cukup sejak remaja, sebelum menikah, hingga masa kehamilan menjadi hal penting untuk memastikan perempuan berada dalam kondisi sehat, sehingga bisa mempersiapkan kehamilan dan memastikan tumbuh kembang anak secara optimal.

Salah satu sarana edukasi yang tersedia di masyarakat saat ini adalah Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) dan Kelas Ibu Hamil yang biasanya diselenggarakan di posyandu atau fasilitas kesehatan. Di kelas ini akan dibagikan berbagai informasi penting yang akan mendukung perempuan menjalankan perannya terutama dalam hal kesehatan. Selain sebagai ruang belajar, sarana ini juga menjadi tempat berbagi pengalaman dan saling menguatkan.

Pada banyak kesempatan, semangat mendukung antar sesama perempuan ini telah menjadi kekuatan nyata, termasuk dalam pencegahan stunting. Dukungan perlu diberikan kepada perempuan, baik pada fase kehamilan, melahirkan, menyusui, dan pengasuhan anak. Dukungan sosial diyakini dapat meningkatkan kepercayaan, terutama untuk para ibu sebagai pengambil keputusan terkait kesehatan keluarga, sehingga mereka tidak merasa berjalan sendiri.

Meski berada di garda terdepan kesehatan keluarga, pencegahan stunting bukanlah tanggung jawab perempuan semata. Dukungan keluarga, pemangku kepentingan, serta kebijakan yang berpihak pada kesehatan ibu dan anak menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan dan percepatan penurunan stunting.

Melalui kolaborasi lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat, setiap perempuan diharapkan memiliki akses yang setara terhadap informasi dan layanan kesehatan. Semakin banyak perempuan yang teredukasi dan didukung, semakin besar peluang lahirnya generasi yang sehat dan berkualitas.

Sumber:

https://ayosehat.kemkes.go.id/peran-ibu-cegah-stunting
https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/2657/mengenal-lebih-jauh-tentang-stunting

BAGIKAN

Baca Juga

Link Terkait