KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI

SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN

Gambaran Umum

Selama enam tahun terakhir, Provinsi Sumatera Selatan berhasil menurunkan angka stunting secara signifikan dari 31,7% pada tahun 2018 menjadi 15,9% pada tahun 2024, atau turun sebesar 15,8 poin persentase. Penurunan ini menempatkan Sumatera Selatan dalam kategori rendah dan berada di bawah rata-rata nasional (19,8%). Namun demikian, secara absolut diperkirakan masih terdapat sekitar 125.879 balita yang mengalami stunting, sehingga upaya percepatan penurunan tetap perlu dilanjutkan secara konsisten.

Penurunan prevalensi terjadi di seluruh 17 kabupaten/kota sejak tahun 2018, menunjukkan adanya kemajuan secara luas di tingkat wilayah. Meskipun demikian, masih terdapat 1 kabupaten dengan prevalensi relatif tinggi (>30%) dan 8 kabupaten/kota pada kategori medium (≥20%), yang menunjukkan bahwa capaian penurunan belum sepenuhnya merata dan masih terdapat wilayah dengan tingkat kerentanan yang lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya. Sejalan dengan upaya tersebut, alokasi anggaran tahun 2024 dan 2025 sebagian besar telah diarahkan pada intervensi spesifik dan secara umum proporsional terhadap tingkat prevalensi di masing-masing daerah. Namun, realisasi anggaran masih menunjukkan variasi yang cukup lebar, dengan serapan berkisar antara 42% hingga 108,8%.

 

Fokus Perhatian Berdasarkan Data

1. Beberapa indikator intervensi kunci masih berada di bawah target cakupan, terutama pada:
• Pemeriksaan kehamilan minimal enam kali selama masa kehamilan
• Konsumsi tablet tambah darah (≥90 tablet) selama kehamilan
• Pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil
• Praktik Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
• Kelengkapan imunisasi dasar pada anak usia 12–23 bulan
• Konsumsi makanan beragam pada anak usia 6–23 bulan
• Penimbangan berat badan balita sesuai standar (≥8 kali per tahun)
• Pemberian makanan tambahan bagi balita usia 6–59 bulan
• Partisipasi anak usia dini dalam Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
• Pencegahan penyakit infeksi, khususnya Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada anak usia 0–59 bulan
2. Berdasarkan kelompok umur, prevalensi stunting berturut-turut adalah 6,6% (0–11 bulan), 16,0% (12–23 bulan), 19,3% (24–35 bulan), 19,3% (36–47 bulan), dan 15,2% (48–60 bulan). Pola ini menunjukkan bahwa sebagian besar anak di Sumatera Selatan tidak lahir dalam kondisi stunting, namun mulai mengalami peningkatan risiko setelah usia 12 bulan dan mencapai tingkat tertinggi pada usia 24–47 bulan.

Pembelajaran Awal

  • Penurunan sebesar 15,8 poin persentase dalam enam tahun menunjukkan progres yang kuat dan konsisten. Namun, masih besarnya jumlah balita stunting secara absolut menegaskan bahwa upaya percepatan perlu dijaga agar tidak terjadi stagnasi atau kenaikan kembali.
  • Rendahnya cakupan layanan esensial ibu dan anak serta meningkatnya prevalensi setelah usia 12 bulan hingga puncak pada usia 24–47 bulan menegaskan perlunya penguatan kesinambungan layanan, intervensi gizi, dan pemantauan pertumbuhan terutama pada periode transisi MPASI sebagai fase risiko tinggi.
  • Meskipun seluruh kabupaten/kota mengalami penurunan dan alokasi anggaran relatif proporsional, masih adanya 9 wilayah dengan prevalensi ≥20% serta variasi realisasi anggaran antarwilayah menunjukkan perlunya penguatan efektivitas implementasi dan pendekatan berbasis prioritas untuk memastikan dampak intervensi lebih merata.

Dokumen lengkap Stunting dalam Angka Provinsi Sumatera Selatan menyajikan rincian data prevalensi, distribusi wilayah, capaian indikator program, analisis median berat badan menurut umur, serta rekomendasi spesifik wilayah. Data ini dapat dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dan evaluasi program percepatan penurunan stunting.

Dokumen lengkap dapat diunduh melalui tautan berikut: