KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI

SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN

Gambaran Umum

Prevalensi stunting di Provinsi Sulawesi Utara menunjukkan tren penurunan dalam kurun waktu 2018–2024, dari 25,5% menjadi 20,8%, atau turun 4,7 poin persentase selama enam tahun. Saat ini diperkirakan masih terdapat sekitar 39.464 balita yang mengalami stunting di Sulawesi Utara. Secara kewilayahan, dari 15 kabupaten/kota, sebanyak 11 daerah menunjukkan tren penurunan prevalensi. Namun demikian, terdapat 4 daerah yang mengalami kenaikan prevalensi, yang mengindikasikan bahwa capaian belum sepenuhnya merata. Dilihat dari tingkat prevalensi, sejumlah kabupaten/kota masih berada pada kategori medium (>20%), sehingga memerlukan penguatan intervensi yang lebih terarah di wilayah dengan beban relatif lebih tinggi.

Dari aspek pembiayaan, alokasi anggaran stunting tahun 2024 dan 2025 secara umum lebih banyak diarahkan pada intervensi spesifik. Namun demikian, realisasi serapan anggaran masih menunjukkan kesenjangan yang cukup lebar antar daerah, dengan kisaran capaian antara 16% hingga 91,3%. Variasi ini mengindikasikan adanya perbedaan kapasitas pelaksanaan dan efektivitas pengendalian program di tingkat kabupaten/kota.

Fokus Perhatian Berdasarkan Data

1. Terdapat faktor determinan yang cakupan layanannya belum memenuhi target minimal, terutama :
– Ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan 6x
– Ibu hamil mengonsumsi TTD ≥90 tablet selama kehamilan
– Ibu hamil mendapat TTD ≥90 tablet selama kehamilan
– Ibu hamil mendapatkan makanan tambahan
– Bayi yang mendapatkan Inisiasi Menyusu Dini
– Anak usia 6-23 bulan yang mengonsumsi makanan beragam
– Anak umur 6-59 bulan yang mendapatkan makanan tambahan
– Anak usia dini yang pernah/ sedang mengikuti PAUD
– Pencegahan Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada anak umur 0-59 bulan
2. Berdasarkan kelompok umur, prevalensi stunting berturut-turut 24% (24-35 bulan), 22,7% (12-23 bulan), 22,6% (36-47 bulan), 18,4% (48-60 bulan), dan 14,3% (0-11 bulan). Ini artinya anak stunting di Sulut rentan mengalami stunting saat memasuki umur 12 bulan dan risiko tersebut meningkat dengan bertambahnya umur.

Catatan Pembelajaran Awal

  • Penurunan prevalensi menunjukkan arah yang positif, namun masih adanya daerah dengan kenaikan prevalensi menandakan bahwa konsistensi dan pemerataan capaian belum sepenuhnya kuat, sehingga diperlukan penguatan pengawalan kinerja lintas wilayah agar tren penurunan tetap terjaga.
  • Masih terdapat indikator layanan esensial pada ibu hamil, bayi, dan balita yang belum optimal, sementara pola risiko meningkat setelah anak memasuki usia di atas satu tahun; hal ini menunjukkan pentingnya kesinambungan intervensi sejak kehamilan hingga periode baduta, dengan penekanan pada mutu layanan, kepatuhan konsumsi intervensi gizi, serta praktik pemberian makan dan pengasuhan. Perhatian tersebut juga tanpa mengabaikan fase usia selanjutnya.
  • Perbedaan capaian antar kabupaten/kota dan kesenjangan realisasi anggaran yang cukup lebar mencerminkan variasi kapasitas implementasi dan pengendalian program, sehingga diperlukan penguatan tata kelola, monitoring berbasis kinerja, serta pendekatan afirmatif pada wilayah dengan capaian rendah agar alokasi yang telah ditetapkan dapat menghasilkan dampak yang lebih merata.

Dokumen lengkap Stunting dalam Angka Provinsi Sulawesi Utara menyajikan rincian data prevalensi, distribusi wilayah, capaian indikator program, analisis median berat badan menurut umur, serta rekomendasi spesifik wilayah. Data ini dapat dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dan evaluasi program percepatan penurunan stunting.

Dokumen lengkap dapat diunduh melalui tautan berikut: