Secara capaian, prevalensi stunting di Provinsi Sulawesi Barat menunjukkan tren penurunan dalam kurun waktu 2018–2024. Angka prevalensi turun dari 41,6% pada tahun 2018 menjadi 35,4% pada tahun 2024, atau berkurang 6,2 poin persentase selama enam tahun. Meskipun demikian, prevalensi stunting di Sulawesi Barat masih konsisten berada pada kategori tinggi (>30%) atau masih dalam zona merah untuk seluruh kabupaten/kota. Saat ini diperkirakan terdapat sekitar 46.712 balita yang mengalami stunting.
Proporsi aggaran stunting 2024 dan 2025 terbesar umumnya dialokasikan untuk intervensi spesifik. Rasio anggaran tagging stunting terhadap APBD 2025 juga sejalan dengan prevalensi stunting. Namun, dari aspek penyerapan realisasinya, 5 dari 6 kabupaten/kota tidak optimal (16,1% – 88,9%). Hanya satu kabupaten yang penyerapan anggarannya mencapai minimal 100%.
Fokus Perhatian Berdasarkan Data
1. Terdapat faktor determinan yang cakupan layanannya belum memenuhi target minimal, yaitu terutama :
– Ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan 6x
– Ibu hamil mengonsumsi TTD ≥90 tablet selama kehamilan
– Ibu hamil mendapatkan makanan tambahan
– Bayi yang mendapatkan Inisiasi Menyusu Dini
– Anak usia 12-23 bulan yang mendapatkan imunisasi dasar lengkap
– Anak usia 6-23 bulan yang mengonsumsi makanan beragam
– Anak umur 6-59 bulan yang mendapatkan makanan tambahan
– Anak usia dini yang pernah/ sedang mengikuti PAUD
– Pencegahan Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada anak umur 0-59
2. Berdasarkan kelompok umur, prevalensi stunting berturut-turut 43,5% (36-47 bulan), 40,9% (24-35 bulan), 35,5% (48-60 bulan), 32,8% (12-23 bulan), dan 18,1% (0-11 bulan). Ini artinya anak stunting di Sulbar lebih rentan mengalami stunting saat memasuki umur 12 bulan dan risiko tersebut meningkat dengan bertambahnya umur.
Catatan Pembelajaran Awal
- Meskipun terjadi penurunan prevalensi dalam enam tahun terakhir, seluruh kabupaten/kota masih berada pada kategori tinggi, sehingga diperlukan percepatan dan penguatan intervensi agar mampu keluar dari zona merah secara kolektif.
- Perencanaan anggaran relatif selaras dengan tingkat prevalensi dan telah memprioritaskan intervensi spesifik, namun rendahnya realisasi di sebagian besar kabupaten/kota menunjukkan tantangan pada eksekusi dan pengendalian program yang perlu diperbaiki agar belanja lebih berdampak.
- Belum tercapainya target pada berbagai layanan kunci ibu dan anak, serta pola risiko yang meningkat setelah usia satu tahun hingga balita, menegaskan pentingnya penguatan mutu layanan dan intervensi berkelanjutan sejak kehamilan dengan prioritas pada 1.000 HPK serta kesinambungan hingga usia lima tahun.
Dokumen lengkap Stunting dalam Angka Provinsi Sulawesi Barat menyajikan rincian data prevalensi, distribusi wilayah, capaian indikator program, analisis median berat badan menurut umur, serta rekomendasi spesifik wilayah. Data ini dapat dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dan evaluasi program percepatan penurunan stunting.


