KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI

SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN

Gambaran Umum

Prevalensi stunting di Provinsi Riau pada tahun 2024 tercatat sebesar 20,1%. Dibandingkan dengan baseline 2018 (27,4%), secara kumulatif terjadi penurunan sebesar 7,3 poin persentase dalam enam tahun terakhir. Namun, setelah sempat turun signifikan menjadi 13,6% pada 2023, angka stunting kembali meningkat pada 2024. Kenaikan ini menunjukkan bahwa tren perbaikan belum sepenuhnya stabil. Angka 2024 juga sedikit berada di atas rata-rata nasional (19,8%). Kenaikan tajam ini menjadi sinyal penting bahwa keberhasilan tahun sebelumnya belum cukup kokoh. Saat ini diperkirakan masih terdapat sekitar 129.349 balita berstatus stunting.

Secara kewilayahan, 4 dari 12 kabupaten/kota di Riau masih berada pada kategori medium (>20%), sementara 8 daerah lainnya telah berada di bawah 20%. Hal ini menunjukkan adanya kemajuan di sebagian besar wilayah. Dari sisi pembiayaan, komposisi anggaran stunting tahun 2024 dan 2025 relatif tersebar pada tiga kategori intervensi (spesifik, sensitif, dan enabling). Namun pada 2025, alokasi anggaran dinilai kurang proporsional dibandingkan 2024 karena rasio tagging terhadap APBD tidak sepenuhnya sejalan dengan tingkat prevalensi stunting antar daerah. Realisasi anggaran 2024 juga menunjukkan kesenjangan yang cukup lebar, dengan tingkat serapan berkisar antara 42,8% hingga 101,2%.

Fokus Perhatian Berdasarkan Data

a. Sejumlah indikator layanan dasar masih berada jauh dari target cakupan ideal, terutama pada:
• Layanan kesehatan ibu hamil dan pemenuhan gizi selama kehamilan
• Inisiasi menyusu dini dan keberlanjutan praktik pemberian ASI
• Kelengkapan imunisasi dasar
• Konsumsi makanan beragam pada anak usia 6–23 bulan
• Penimbangan rutin balita sesuai standar
• Pencegahan infeksi, termasuk ISPA pada anak
b. Berdasarkan kelompok umur, prevalensi stunting berturut-turut 23,9% (24-35 bulan), 22% (48-60 bulan), 20,8% (12-23 bulan), 20% (36-47 bulan), dan 11,3% (0-11 bulan). Ini artinya anak stunting di Riau didominasi oleh anak berumur 1 tahun ke atas.

Pembelajaran Awal

  • Penurunan kumulatif sejak 2018 menunjukkan kemajuan, namun kenaikan tajam pada 2024 setelah capaian rendah di 2023 menandakan bahwa konsistensi dan ketahanan intervensi masih perlu diperkuat agar perbaikan tidak bersifat fluktuatif.
  • Masih rendahnya cakupan layanan ibu hamil, praktik ASI, imunisasi, konsumsi makanan beragam, serta pemantauan pertumbuhan menunjukkan perlunya penguatan mutu dan jangkauan layanan dasar secara lebih sistematis.
  • Dominasi stunting pada usia di atas 12 bulan menegaskan pentingnya penguatan intervensi berkelanjutan sejak kehamilan hingga usia 6–24 bulan untuk mencegah perlambatan pertumbuhan setelah masa bayi.
  • Meskipun sebagian besar kabupaten/kota telah berada di bawah 20%, masih adanya empat daerah dengan prevalensi di atas 20% serta ketidaksejajaran alokasi dan kesenjangan realisasi anggaran menunjukkan perlunya penguatan pendekatan berbasis prioritas wilayah disertai perencanaan dan pengendalian pembiayaan yang lebih responsif terhadap beban masalah.

Dokumen lengkap Stunting dalam Angka Provinsi Riau menyajikan rincian data prevalensi, distribusi wilayah, capaian indikator program, analisis median berat badan menurut umur, serta rekomendasi spesifik wilayah. Data ini dapat dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dan evaluasi program percepatan penurunan stunting.

Dokumen lengkap dapat diunduh melalui tautan berikut: