Tren prevalensi stunting di Provinsi Kalimantan Tengah telah menunjukkan penurunan, yaitu dari 34,0% pada tahun 2018 menjadi 22,1% pada tahun 2024. Meskipun demikian, angka stunting Provinsi Kalimantan Tengah masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang mencapai 19,8%, sehingga provinsi ini dikategorikan dalam level medium. Saat ini, diperkirakan terdapat sekitar 49.690 balita yang mengalami stunting di provinsi ini, menegaskan perlunya percepatan intervensi khususnya di wilayah dengan prevalensi tinggi.
Variasi antar kabupaten/kota menunjukkan ketimpangan yang signifikan. Dari 14 kabupaten/kota, 2 di ataranya masih berprevalensi tinggi (>30%), 6 berada pada kategori sedang (20–29%), dan sisanya sudah rendah. Dari aspek tren penurunan stunting, tercatat 13 daerah yang menunjukkan tren penurunan, namun terdapat 1 kabupaten yang justru mengalami kenaikan signifikan sebesar 10,3 poin persentase. Untuk aspek pembiayaan, alokasi anggaran stunting di Provinsi Kalimantan Tengah pada tahun 2024 dan 2025 lebih banyak diarahkan pada intervensi spesifik, kecuali 1 kabupaten yang cenderung mengalokasikan dana lebih besar untuk intervensi enabling. Untuk tahun 2025, alokasi anggaran terlihat lebih proporsional dibanding 2024; rasio anggaran yang ditagging untuk stunting terhadap APBD selaras dengan tingkat prevalensi stunting, menunjukkan hubungan positif antara alokasi dan kebutuhan wilayah. Selain itu, terdapat kesenjangan yang signifikan dalam penyerapan anggaran. Realisasi tertinggi pada 2024, hanya mencapai 85,7% dan terdapat 1 kabupaten yang serapan anggarannya 0%.
Fokus Perhatian Berdasarkan Data
1. Terdapat faktor determinan yang cakupan layanannya berada di bawah target, yaitu :
– Ibu hamil : pemeriksaan kehamilan 6x, konsumsi ≥90 tablet, mendapatkan makanan tambahan
– Bayi yang mendapatkan Inisiasi Menyusu Dini
– Anak 12-23 bulan yang mendapatkan imunisasi dasar lengkap
– Anak usia 6-23 bulan mengonsumsi makanan beragam
– Anak umur 6-59 bulan yang mendapatkan makanan tambahan
– Anak usia dini yang pernah/ sedang mengikuti PAUD
– Pencegahan Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada anak umur 0-59 bulan
2. Berdasarkan kelompok umur, prevalensi stunting berturut-turut 25,3% (12-23 bulan), 24,7% (24-35 bulan), 23,7% (36-47 bulan), 20,4% (48-60 bulan), dan 14,9% (0-11 bulan). Ini artinya anak stunting di Kalteng rentan mengalami stunting saat memasuki umur 12 bulan.
Catatan Pembelajaran Awal
- Arah penurunan sudah konsisten, namun capaian provinsi masih berada di atas rata-rata nasional sehingga percepatan dan konsistensi intervensi tetap diperlukan, terutama pada wilayah berisiko tinggi.
- Rendahnya cakupan layanan ibu dan anak pada fase awal kehidupan, dengan risiko tertinggi pada anak usia di bawah dua tahun, menegaskan pentingnya penguatan mutu layanan dan intervensi berkelanjutan sejak kehamilan hingga anak usia lima tahun, dengan prioritas khusus pada periode 1.000 HPK.
- Ketimpangan antar wilayah, termasuk adanya daerah dengan tren peningkatan, menunjukkan bahwa alokasi yang mulai selaras dengan kebutuhan belum sepenuhnya diikuti efektivitas serapan dan dampak, sehingga diperlukan penguatan tata kelola, pendampingan prioritas, dan penajaman belanja pada intervensi berdampak langsung.
Dokumen lengkap Stunting dalam Angka Provinsi Kalimantan Tengah menyajikan rincian data prevalensi, distribusi wilayah, capaian indikator program, analisis median berat badan menurut umur, serta rekomendasi spesifik wilayah. Data ini dapat dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dan evaluasi program percepatan penurunan stunting.


