KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI

SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN

Gambaran Umum

Perkembangan stunting di Jawa Barat menunjukkan penurunan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Angka prevalensi turun dari 31,1% pada 2018 menjadi 15,9% pada 2024, sehingga menggeser kategori Jawa Barat dari medium menjadi rendah dan berada di bawah rata-rata nasional (19,8%). Secara keseluruhan periode 2018–2024, penurunan mencapai 15,2 poin persentase atau rata-rata 2,6 poin per tahun. Meskipun demikian, Jawa Barat tetap menjadi prioritas nasional karena memiliki jumlah balita terbesar di Indonesia. Secara absolut, diperkirakan terdapat sekitar 637.027 balita stunting pada tahun 2024, sehingga meskipun prevalensi telah rendah, beban kasus masih sangat besar.

Secara kewilayahan, dari 27 kabupaten/kota masih terdapat 1 kabupaten dengan prevalensi tinggi (>30%), dan 7 kabupaten/kota dengan kategori sedang (20–29%). Sebanyak 25 kabupaten/kota menunjukkan tren penurunan prevalensi, sementara 2 kota lainnya mengalami kenaikan. Dari sisi pembiayaan, anggaran stunting pada tahun 2024 dan 2025 umumnya lebih banyak dialokasikan untuk intervensi spesifik. Sementara itu, terdapat 5 kabupaten/kota yang mengalokasikan lebih besar pada intervensi sensitif. Proporsi alokasi anggaran belum sepenuhnya selaras dengan tingkat prevalensi antarwilayah, sehingga ketepatan penargetan masih perlu diperkuat. Untuk realisasi anggaran tahun 2024, data menunjukkan variasi yang cukup lebar, dengan capaian tertinggi mencapai 216,72% dan terendah 54,23%, yang mencerminkan adanya perbedaan kapasitas penyerapan dan efektivitas pelaksanaan program antar daerah.

Fokus Perhatian Berdasarkan Data

  1. Masih terdapat cakupan layanan esensial yang belum optimal dan berada di bawah target, terutama pada intervensi kunci sejak masa kehamilan hingga usia balita, yaitu :
  • Pemeriksaan kehamilan 6x selama kehamilan
  • Ibu hamil dan Anak umur 6-59 bulan mendapatkan makanan tambahan
  • Bayi yang mendapatkan Inisiasi Menyusu Dini
  • Anak usia dini yang pernah mengikuti PAUD
  • Pencegahan Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada anak umur 0-59 bulan 
  1. Berdasarkan kelompok umur, prevalensi stunting tertinggi terdapat pada usia 24–35 bulan (20%), diikuti usia 36–47 bulan (17,9%), dan 12–23 bulan (15,9%), serta lebih rendah pada usia di bawah 12 bulan (9,9%). Pola ini menunjukkan bahwa risiko stunting meningkat setelah usia 12 bulan dan didominasi pada anak usia dua tahun ke atas.

Pembelajaran Awal

  • Penurunan prevalensi yang signifikan menunjukkan bahwa upaya percepatan di Jawa Barat telah berjalan efektif secara luas. Namun, masih adanya wilayah dengan prevalensi sedang dan tinggi menegaskan perlunya pendekatan yang lebih terarah pada daerah dengan beban masalah lebih besar agar kemajuan dapat berlangsung lebih merata.
  • Besarnya jumlah absolut balita stunting, seiring dengan besarnya populasi di Jawa Barat, menunjukkan bahwa penguatan cakupan dan kualitas layanan esensial masih perlu terus diperkuat. Hal ini terutama relevan mengingat sebagian layanan kunci belum optimal dan risiko stunting meningkat setelah usia 12 bulan, sehingga konsistensi intervensi pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan dan masa transisi MPASI menjadi sangat krusial.
  • Belum sepenuhnya selarasnya alokasi anggaran dengan tingkat prevalensi serta masih lebarnya variasi realisasi anggaran menunjukkan perlunya penguatan ketepatan penargetan dan konsistensi pelaksanaan program. Hal ini penting untuk memastikan sumber daya yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal, terutama pada wilayah dengan beban stunting lebih tinggi.

Dokumen lengkap Stunting dalam Angka Provinsi Jawa Barat menyajikan rincian data prevalensi, distribusi wilayah, capaian indikator program, analisis median berat badan menurut umur, serta rekomendasi spesifik wilayah. Data ini dapat dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dan evaluasi program percepatan penurunan stunting.

Dokumen lengkap dapat diunduh melalui tautan berikut: