Perkembangan stunting di DKI Jakarta menunjukkan tren yang relatif stabil dalam enam tahun terakhir. Angka prevalensi tercatat sebesar 17,6% pada tahun 2018 dan sedikit menurun menjadi 17,3% pada tahun 2024. Capaian ini menempatkan DKI Jakarta dalam kategori prevalensi rendah dan berada di bawah rata-rata nasional (19,8%). Meskipun demikian, besarnya jumlah populasi menjadikan beban kasus secara absolut tetap signifikan, dengan estimasi sekitar 143.601 balita stunting pada tahun 2024. Secara kewilayahan, sebagian besar kabupaten/kota menunjukkan tren penurunan prevalensi, meskipun masih terdapat wilayah dengan prevalensi kategori sedang, serta beberapa wilayah yang mengalami peningkatan. Kondisi ini menunjukkan bahwa kemajuan telah terjadi, namun belum sepenuhnya merata.
Fokus Perhatian Berdasarkan Data
- Masih terdapat cakupan layanan esensial yang belum optimal pada layanan sejak masa kehamilan hingga usia balita. Hal ini mencakup :
- Pemeriksaan kehamilan
- Pemberian makanan tambahan
- Praktik menyusui dini
- Layanan gizi balita
- Partisipasi PAUD
- Pencegahan penyakit infeksi.
- Berdasarkan kelompok umur, prevalensi stunting tertinggi terdapat pada usia 24–35 bulan (21,2%), diikuti usia 36–47 bulan (19,7%) dan 12–23 bulan (18,8%), serta lebih rendah pada usia di bawah 12 bulan (10,4%). Pola ini menunjukkan bahwa risiko stunting meningkat setelah usia 12 bulan dan menjadi lebih nyata pada usia dua tahun ke atas, sehingga periode transisi menuju MPASI menjadi fase yang sangat penting untuk diperkuat.
Pembelajaran Awal
- Tren prevalensi yang relatif stabil dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa upaya percepatan telah mampu menjaga tingkat stunting tetap rendah. Namun, masih adanya wilayah dengan prevalensi lebih tinggi dan sebagian wilayah yang mengalami kenaikan menegaskan pentingnya penguatan intervensi secara lebih terarah agar penurunan dapat berlangsung lebih merata.
- Besarnya jumlah absolut balita stunting, seiring dengan besarnya populasi di DKI Jakarta, menunjukkan bahwa penguatan cakupan dan kualitas layanan esensial tetap krusial. Hal ini terutama penting mengingat risiko stunting meningkat setelah usia 12 bulan, sehingga konsistensi intervensi pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan dan masa transisi MPASI yang berperan penting dalam upaya mencegah munculnya kasus baru.
Dokumen lengkap Stunting dalam Angka Provinsi DKI Jakarta menyajikan rincian data prevalensi, distribusi wilayah, capaian indikator program, analisis median berat badan menurut umur, serta rekomendasi spesifik wilayah. Data ini dapat dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dan evaluasi program percepatan penurunan stunting.


