Perkembangan stunting di Banten menunjukkan tren konstan pada kisaran 20%. Penurunan dari 26,6% pada 2018 hingga mencapai titik terendah 20,0% pada 2022, namun kembali meningkat menjadi 21,1% pada 2024. Hal ini mengklasifikasikan Provinsi Banten pada kategori medium, lebih tinggi dibandingkan angka nasional (19,8%). Secara absolut, Banten termasuk salah satu wilayah dengan jumlah balita stunting terbesar di Indonesia, dengan estimasi sekitar 231.418 balita pada tahun 2024.
Secara kewilayahan, masih terdapat kesenjangan tingkat prevalensi stunting antar daerah di Banten. Dari 8 kabupaten/kota, terdapat 4 wilayah dengan prevalensi kategori sedang dan 1 wilayah dengan kategori prevalensi tinggi. Selain itu juga tercatat sebanyak 7 kabupaten/kota menunjukkan tren penurunan prevalensi, sementara 1 kabupaten mengalami sedikit kenaikan. Kondisi ini menunjukkan bahwa kemajuan telah terjadi di sebagian besar wilayah, namun beban masalah masih terkonsentrasi di beberapa daerah prioritas. Dari sisi pembiayaan, anggaran stunting pada tahun 2024 dan 2025 umumnya lebih banyak dialokasikan untuk intervensi spesifik. Proporsi alokasi anggaran tahun 2025 juga belum sepenuhnya selaras dengan tingkat prevalensi antarwilayah, menunjukkan perlunya penguatan ketepatan penargetan. Sementara itu, realisasi anggaran tahun 2024 menunjukkan kesenjangan yang cukup lebar, berkisar dari 22,21 % – 102,81% yang mencerminkan perbedaan kapasitas penyerapan dan efektivitas pelaksanaan program antar daerah.
Fokus Perhatian Berdasarkan Data
1. Masih terdapat cakupan intervensi yang belum optimal dan berada di bawah target 80%, terutama :
- Pemeriksaan kehamilan 6x selama kehamilan
- Ibu hamil mendapatkan makanan tambahan
- Bayi yang mendapatkan Inisiasi Menyusu Dini
- Anak umur 6-59 bulan yang mendapatkan makanan tambahan
- Anak usia dini yang pernah/ sedang mengikuti PAUD
- Pencegahan Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada anak umur 0-59 bulan
2. Berdasarkan kelompok umur, prevalensi stunting berturut-turut 29,2% (24-35 bulan), 24,4% (36-47 bulan), 20% (12-23 bulan), 18,1% (48-60 bulan), dan 10,2% (0-11 bulan). Ini artinya balita di Banten rentan untuk menjadi stunting saat memasuki umur 12 bulan.
Pembelajaran Awal
- Tren prevalensi yang relatif stagnan dalam enam tahun terakhir menunjukkan bahwa upaya percepatan di Banten masih perlu diperkuat, khususnya untuk memastikan penurunan dapat berlangsung lebih stabil dan merata di seluruh wilayah.
- Besarnya jumlah balita stunting, sejalan dengan besarnya populasi, menunjukkan bahwa cakupan dan kualitas layanan esensial masih perlu diperkuat. Hal ini penting karena sebagian intervensi kunci belum optimal dan risiko stunting meningkat setelah usia 12 bulan, sehingga intervensi perlu dijaga konsistensinya terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan dan masa transisi MPASI.
- Masih adanya kesenjangan prevalensi antarwilayah, serta alokasi dan realisasi anggaran yang belum sepenuhnya selaras, menunjukkan perlunya penguatan ketepatan penargetan dan konsistensi pelaksanaan program. Upaya ini penting untuk memastikan sumber daya lebih efektif menjangkau wilayah dengan beban masalah lebih tinggi dan mempercepat penurunan stunting secara merata.
Dokumen lengkap Stunting dalam Angka Provinsi Banten menyajikan rincian data prevalensi, distribusi wilayah, capaian indikator program, analisis median berat badan menurut umur, serta rekomendasi spesifik wilayah. Data ini dapat dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dan evaluasi program percepatan penurunan stunting.


