KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI

SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN

Gambaran Umum

Prevalensi stunting di Provinsi Bali sebesar 8,6% merupakan yang terendah di Indonesia. Provinsi Bali berhasil menurunkan prevalensi 13,2% poin dari 21,8% di tahun 2018 ke 8,6% di tahun 2024 dan sudah berada di bawah rata-rata nasional (19,8%). Saat ini diperkirakan ada 27.887 balita yang mengalami stunting di Bali.  Seluruh kabupaten/ kota di Bali menunjukan tren penurunan stunting, sehingga 9 kabupaten/kota di Bali keseluruhannya sudah berada dalam kategori stunting rendah (<20%).

Dari aspek pembiayaan, proporsi penggunaan anggaran stunting lebih banyak digunakan untuk intervensi spesifik (2024-2025). Namun, alokasinya untuk 2025 dinilai masih kurang proporsional; rasio anggaran tagging stunting terhadap APBD tidak sejalan dengan tingkat prevalensi stunting per daerah. Realisasi serapan juga masih belum optimal, berkisar dari 50% – 87,68%.

Fokus Perhatian Berdasarkan Data

  1. Beberapa indikator intervensi kunci masih berada di bawah target cakupan, terutama pada:
  • Layanan kesehatan ibu hamil, termasuk pemeriksaan kehamilan minimal enam kali dan konsumsi tablet tambah darah
  • Dukungan gizi bagi ibu hamil, termasuk pemberian makanan tambahan
  • Praktik Inisiasi Menyusu Dini
  • Kelengkapan imunisasi dasar anak usia 12–23 bulan
  • Pemberian makanan tambahan bagi balita
  • Konsumsi makanan beragam pada anak usia 6–23 bulan
  1. Berdasarkan kelompok umur, prevalensi berturut-turut adalah 14,9% (0–11 bulan), 25,7% (12–23 bulan), 34,5% (24–35 bulan), 32,2% (36–47 bulan), dan 28,2% (48–60 bulan). Pola ini menunjukkan bahwa sebagian besar anak tidak lahir dalam kondisi stunting, namun mulai mengalami perlambatan pertumbuhan setelah memasuki usia di atas 12 bulan, dengan puncak pada usia 24–35 bulan.

Pembelajaran Awal

  • Bali menunjukkan capaian terbaik nasional dengan tren penurunan konsisten di seluruh kabupaten/kota, sehingga tantangan ke depan adalah menjaga keberlanjutan dan memastikan kualitas intervensi tetap terjaga meski prevalensi sudah rendah.
  • Meskipun proporsi belanja telah diarahkan pada intervensi spesifik, ketidaksinkronan rasio anggaran dengan tingkat prevalensi serta serapan yang belum optimal menunjukkan perlunya penajaman perencanaan, pemerataan berbasis kebutuhan, dan penguatan pengendalian kinerja.
  • Masih adanya cakupan layanan esensial yang belum mencapai target menandakan bahwa pada level prevalensi rendah sekalipun, penguatan mutu layanan ibu dan anak tetap krusial untuk mencegah kasus baru.
  • Risiko relatif meningkat saat anak memasuki usia dua tahun, sehingga intervensi harus tetap menekankan pendekatan siklus hidup sejak kehamilan dengan prioritas pada 1.000 HPK serta keberlanjutan hingga usia lima tahun.

Dokumen lengkap Stunting dalam Angka Provinsi Bali menyajikan rincian data prevalensi, distribusi wilayah, capaian indikator program, analisis median berat badan menurut umur, serta rekomendasi spesifik wilayah. Data ini dapat dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dan evaluasi program percepatan penurunan stunting.

Dokumen lengkap dapat diunduh melalui tautan berikut: