Data prevalensi stunting Provinsi Papua Selatan tersedia sejak 2023. Dalam periode 2023–2024, prevalensi relatif tetap di kisaran 25%, menunjukkan belum adanya penurunan yang signifikan. Secara kewilayahan, dari 4 kabupaten, seluruhnya menunjukkan tren penurunan prevalensi. Meskipun demikian, masih terdapat 1 kabupaten dengan kategori prevalensi tinggi (>30%) dan 2 kabupaten/kota berada pada kategori medium (>20%). Kondisi ini menunjukkan bahwa beban stunting masih cukup berat dan belum merata antarwilayah.
Dari sisi pendanaan, proporsi anggaran stunting tahun 2024 dan 2025 lebih banyak dialokasikan pada intervensi spesifik. Namun, alokasi anggaran pada kedua tahun tersebut dinilai kurang proporsional karena rasio anggaran tagging stunting terhadap APBD belum sejalan dengan tingkat prevalensi di masing-masing kabupaten. Selain itu, realisasi serapan anggaran juga belum optimal dan masih menunjukkan kesenjangan, dengan capaian berkisar antara 27% hingga 74,3%.
Fokus Perhatian Berdasarkan Data
- Berdasarkan ketersediaan data, terdapat faktor determinan yang cakupan layanannya belum memenuhi target minimal, terutama :
- Ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan 6x selama kehamilan
- Ibu hamil mendapatkan makanan tambahan
- Bayi yang mendapatkan Inisiasi Menyusu Dini
- Anak usia 6-23 bulan yang mengonsumsi makanan beragam
- Balita yang melakukan penimbangan berat badan sesuai standar (≥8x setahun)
- Anak umur 6-59 bulan yang mendapatkan makanan tambahan
- Anak usia dini yang pernah/ sedang mengikuti PAUD
- Pencegahan Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada anak umur 0-59 bulan
- Berdasarkan kelompok umur, prevalensi stunting berturut-turut 29,9% (12-23 bulan dan 24-35 bulan), 28,4% (36-47 bulan), 23,9% (48-60 bulan), dan 17,4% (0-11 bulan). Ini artinya anak stunting di Papua Selatan rentan mengalami stunting sejak berumur 12 bulan, dan risikonya meningkat dengan bertambahnya umur.
Catatan Pembelajaran Awal
- Stagnasi prevalensi di tingkat provinsi menandakan bahwa laju perbaikan belum cukup kuat untuk menurunkan angka secara agregat. Diperlukan percepatan dan konsolidasi intervensi agar dampaknya lebih terasa di tingkat provinsi.
- Masih adanya kabupaten dengan kategori >30% serta dua kabupaten pada kategori >20% menunjukkan perlunya dukungan yang lebih intensif dan terarah agar kesenjangan antarwilayah tidak melebar.
- Rendahnya cakupan layanan kunci menunjukkan bahwa penguatan layanan sejak masa kehamilan hingga usia baduta sangat krusial. Tingginya prevalensi pada kelompok usia di atas 12 bulan menegaskan pentingnya kesinambungan intervensi setelah anak lahir.
- Ketidaksejajaran antara alokasi dan tingkat prevalensi, serta serapan yang masih rendah, menunjukkan perlunya penguatan tata kelola, perencanaan berbasis data, dan pengendalian pelaksanaan agar anggaran benar-benar efektif menurunkan stunting.
Dokumen lengkap Stunting dalam Angka Provinsi Papua Selatan menyajikan rincian data prevalensi, distribusi wilayah, capaian indikator program, analisis median berat badan menurut umur, serta rekomendasi spesifik wilayah. Data ini dapat dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dan evaluasi program percepatan penurunan stunting.


