Prevalensi stunting di Provinsi Papua menunjukkan pola yang fluktuatif dalam beberapa tahun terakhir. Angka prevalensi meningkat dari 33,1% pada 2018 menjadi 34,6% pada 2022, sebelum kemudian menurun menjadi 24,7% pada 2024. Secara kumulatif terjadi penurunan sebesar 8,4 poin persentase dalam enam tahun, dengan rata-rata penurunan sekitar 1,4 poin per tahun. Meskipun demikian, dinamika kenaikan pada periode sebelumnya menunjukkan bahwa perbaikan belum sepenuhnya stabil. Saat ini diperkirakan terdapat sekitar 77.795 balita yang mengalami stunting di Papua.
Secara kewilayahan, dari 9 kabupaten/kota, sebanyak 5 daerah menunjukkan tren penurunan prevalensi. Namun demikian, terdapat 4 daerah yang mengalami kenaikan prevalensi, termasuk satu kabupaten dengan kenaikan yang sangat signifikan. Kondisi ini menandakan bahwa capaian penurunan belum merata dan masih terdapat wilayah dengan dinamika peningkatan yang perlu mendapat perhatian khusus. Dilihat dari tingkat prevalensi, sebagian kabupaten/kota berada pada kategori medium (>20%), sementara beberapa lainnya masih berada pada kategori tinggi (>30%). Hal ini menunjukkan masih adanya kantong-kantong wilayah dengan beban stunting yang relatif berat dan memerlukan pendekatan intervensi yang lebih terfokus. Dari aspek pembiayaan, proporsi anggaran stunting tahun 2024 dan 2025 secara umum lebih banyak diarahkan pada intervensi spesifik. Namun, realisasi serapan anggaran masih menunjukkan variasi yang cukup lebar, dengan kisaran antara 23,1% hingga 93,9%.
Fokus Perhatian Berdasarkan Data
-
-
- Terdapat faktor determinan yang cakupan layanannya belum memenuhi target minimal, terutama :
-
- Ibu hamil : pemeriksaan kehamilan 6x, konsumsi TTD ≥90 tablet dan makanan tambahan
- Bayi yang mendapatkan Inisiasi Menyusu Dini
- Bayi usia 0-5 bulan mendapatkan ASI eksklusif
- Anak usia 12-23 bulan yang mendapatkan imunisasi dasar lengkap
- Anak usia 6-23 bulan yang mengonsumsi makanan beragam
- Anak umur 6-59 bulan yang mendapatkan makanan tambahan
- Anak usia dini yang pernah/ sedang mengikuti PAUD
- Pencegahan Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada anak umur 0-59 bulan
-
-
- Berdasarkan kelompok umur, prevalensi stunting berturut-turut 30,2% (24-35 bulan), 26,6% (12-23 bulan), 20,1% (48-60 bulan), 20% (36-47 bulan), dan 16,1% (0-11 bulan). Ini artinya anak stunting di Papua rentan mengalami stunting sejak berumur 12 bulan, dan risikonya meningkat dengan bertambahnya umur.
-
Catatan Pembelajaran Awal
- Pola penurunan yang fluktuatif menunjukkan bahwa perbaikan belum sepenuhnya stabil. Konsistensi arah kebijakan dan kesinambungan implementasi menjadi kunci agar tren perbaikan dapat terjaga.
- Belum optimalnya sejumlah layanan kunci ibu dan anak menegaskan pentingnya penguatan mutu dan integrasi layanan dasar sepanjang siklus hidup. Risiko yang mulai meningkat sejak anak memasuki usia di atas satu tahun mempertegas urgensi pendekatan life-cycle yang berkelanjutan, dengan penekanan kuat pada 1.000 HPK dan penguatan layanan lanjutan pada fase usia selanjutnya.
- Ketimpangan capaian antar kabupaten/kota menunjukkan perlunya pendekatan berbasis prioritas wilayah dengan beban tertinggi. Di sisi lain, variasi realisasi anggaran yang cukup lebar mengindikasikan perbedaan kapasitas pelaksanaan dan pengendalian program, sehingga penguatan tata kelola dan akuntabilitas belanja menjadi faktor penting untuk memastikan pembiayaan benar-benar berdampak pada penurunan stunting.
Dokumen lengkap Stunting dalam Angka Provinsi Papua menyajikan rincian data prevalensi, distribusi wilayah, capaian indikator program, analisis median berat badan menurut umur, serta rekomendasi spesifik wilayah. Data ini dapat dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dan evaluasi program percepatan penurunan stunting.


