Tren prevalensi stunting di Provinsi Papua Barat relatif fluktuatif dan belum menunjukkan penurunan yang signifikan. Pada 2018 prevalensi tercatat sebesar 27,8%, meningkat menjadi 30,0% pada 2022, kemudian turun kembali menjadi 24,6% pada 2024. Data tahun 2024 juga memperkirakan terdapat 24.538 balita mengalami stunting di Papua Barat.
Dalam konteks kewilayahan, dari 7 kabupaten/kota hanya 3 yang mencatat tren penurunan, sementara 4 kabupaten lainnya mengalami kenaikan. Mayoritas kabupaten/kota berada pada kategori medium (>20%), dan 1 kabupaten/kota berada pada kategori >30%. Dari sisi pendanaan, alokasi anggaran stunting tahun 2024–2025 lebih banyak diarahkan pada intervensi pendukung (sensitif dan spesifik/ebaling), kecuali dua kabupaten yang lebih dominan pada intervensi spesifik. Rasio alokasi anggaran relatif sejalan dengan tingkat prevalensi, namun realisasi serapan anggaran belum merata, berkisar antara 56,9% hingga 138,1%.
Fokus Perhatian Berdasarkan Data
- Terdapat faktor determinan yang cakupan layanannya belum memenuhi target minimal, terutama :
- Ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan 6x selama kehamilan
- Ibu hamil menerima TTD ≥90 tablet selama kehamilan
- Ibu hamil mendapatkan makanan tambahan
- Bayi yang mendapatkan Inisiasi Menyusu Dini
- Anak usia 12-23 bulan yang mendapatkan imunisasi dasar lengkap
- Anak usia 6-23 bulan yang mengonsumsi makanan beragam
- Balita yang melakukan penimbangan berat badan sesuai standar (≥8x setahun)
- Anak umur 6-59 bulan yang mendapatkan makanan tambahan
- Anak usia dini yang pernah/ sedang mengikuti PAUD
- Pencegahan Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada anak umur 0-59 bulan
- Berdasarkan kelompok umur, prevalensi stunting berturut-turut 30,2% (36-47 bulan), 28,6% (24-35 bulan), 25% (48-60 bulan), 23,3% (12-23 bulan), dan 14,3% (0-11 bulan). Ini artinya anak stunting di Papua Barat rentan mengalami stunting saat memasuki umur 12 bulan dan risiko tersebut bertambah dengan bertambahnya umur.
Catatan Pembelajaran Awal
- Pola penurunan prevalensi yang belum stabil menunjukkan perlunya penguatan konsistensi kebijakan dan kesinambungan implementasi agar penurunan tidak kembali mengalami kenaikan pada periode tertentu.
- Masih adanya kabupaten/kota yang mengalami kenaikan serta wilayah dengan prevalensi di atas 30% menandakan perlunya intervensi yang lebih intensif dan spesifik sesuai karakteristik daerah.
- Rendahnya cakupan layanan kunci serta tingginya prevalensi setelah usia 12 bulan menunjukkan pentingnya penguatan layanan sejak masa kehamilan dan kesinambungan intervensi hingga usia balita.
- Meskipun rasio alokasi anggaran relatif sejalan dengan prevalensi, variasi serapan yang lebar menunjukkan perlunya penguatan perencanaan, eksekusi, dan monitoring agar belanja benar-benar efektif menurunkan stunting.
Dokumen lengkap Stunting dalam Angka Provinsi Papua Barat menyajikan rincian data prevalensi, distribusi wilayah, capaian indikator program, analisis median berat badan menurut umur, serta rekomendasi spesifik wilayah. Data ini dapat dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dan evaluasi program percepatan penurunan stunting.


