Provinsi Maluku Utara menunjukkan penurunan prevalensi stunting dari 31,4% pada tahun 2018 menjadi 23,2% pada tahun 2024, atau turun 8,2 poin persentase dalam enam tahun (sekitar 1,4 poin per tahun). Meskipun terjadi penurunan dari kategori tinggi ke medium, laju penurunannya tergolong stagnan dan belum cukup progresif untuk mempercepat penurunan secara signifikan. Saat ini diperkirakan masih terdapat sekitar 27.249 balita yang mengalami stunting.
Dari aspek kewilayahan, seluruh 10 kabupaten/kota menunjukkan tren penurunan prevalensi, dengan penurunan. Terdapat satu kabupaten dengan prevalensi di atas 30%, sementara beberapa lainnya berada pada kategori medium, menandakan beban stunting yang belum merata sepenuhnya tertangani. Dari aspek pembiayaan, proporsi anggaran stunting tahun 2024 dan 2025 lebih banyak dialokasikan untuk intervensi spesifik dan relatif proporsional terhadap tingkat prevalensi. Namun, realisasi serapan anggaran di seluruh kabupaten/kota belum mencapai tingkat optimal, serta disparitas yang cukup lebar yaitu berada pada rentang 8,2% hingga 97,6%.
Fokus Perhatian Berdasarkan Data
1. Terdapat faktor determinan yang cakupan layanannya belum memenuhi target minimal, terutama :
– Ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan 6x
– Ibu hamil menerima TTD ≥90 tablet selama kehamilan
– Ibu hamil mengonsumsi TTD ≥90 tablet selama kehamilan
– Ibu hamil mendapatkan makanan tambahan
– Bayi yang mendapatkan Inisiasi Menyusu Dini
– Anak usia 12-23 bulan yang mendapatkan imunisasi dasar lengkap
– Anak usia 6-23 bulan yang mengonsumsi makanan beragam
– Anak umur 6-59 bulan yang mendapatkan makanan tambahan
– Anak usia dini yang pernah/ sedang mengikuti PAUD
– Pencegahan Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada anak umur 0-59 bulan
2. Berdasarkan kelompok umur, prevalensi stunting berturut-turut 28,4% (12-23 bulan), 28,2% (24-35 bulan), 24,7% (36-47 bulan), 21% (48-60 bulan), dan 10,4% (0-11 bulan). Ini artinya anak stunting di Maluku Utara rentan mengalami stunting saat memasuki umur 12 bulan dan risiko tersebut meningkat dengan bertambahnya umur.
Catatan Pembelajaran Awal
- Laju penurunan yang relatif stagnan menunjukkan perlunya percepatan kinerja agar penurunan lebih progresif dan mampu menekan beban kasus yang masih cukup besar.
- Seluruh kabupaten/kota memang menunjukkan tren penurunan, namun masih terdapat daerah dengan prevalensi tinggi serta kesenjangan realisasi anggaran yang lebar, sehingga penguatan pengendalian pelaksanaan, pemerataan dukungan, dan peningkatan efektivitas belanja menjadi prioritas.
- Belum tercapainya target pada berbagai layanan esensial ibu dan anak, serta pola prevalensi yang meningkat sejak usia 12 bulan, menegaskan pentingnya penguatan mutu layanan dan intervensi berkelanjutan sejak kehamilan dengan prioritas pada 1.000 HPK serta kesinambungan hingga usia balita.
Dokumen lengkap Stunting dalam Angka Provinsi Maluku Utara menyajikan rincian data prevalensi, distribusi wilayah, capaian indikator program, analisis median berat badan menurut umur, serta rekomendasi spesifik wilayah. Data ini dapat dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dan evaluasi program percepatan penurunan stunting.


