Secara umum, Provinsi Maluku menunjukkan kemajuan dengan pergeseran kategori dari prevalensi tinggi menuju kategori medium. Namun demikian, laju penurunannya masih relatif lambat. Prevalensi stunting turun dari 34% pada tahun 2018 menjadi 28,4% pada tahun 2024, atau berkurang 5,7 poin persentase dalam enam tahun (sekitar 0,9 poin per tahun). Angka tersebut masih berada di atas rata-rata nasional (19,8%). Saat ini diperkirakan masih terdapat sekitar 47.279 balita yang mengalami stunting di Provinsi Maluku.
Penurunan prevalensi stunting terjadi di 8 dari 11 Kabupaten kota di Maluku. Namun, 2 di anataranya stagnan bahkan terdapat 1 kabupaten yang mengalami kenaikan. Saat ini tercatat 4 kabupaten/kota yang tergolong kategori tinggi (>30%). Dari aspek pembiayaan, proporsi anggaran stunting baik 2024 maupun 2025 lebih banyak mengalokasikannya untuk intervensi spesifik, kecuali satu kabupaten yang lebih banyak untuk kategori enabling (pendukung intervensi sensitif dan spesifik). Rasio anggaran tagging stunting terhadap APBD 2025 juga terpantau tidak sejalan dengan prevalensi stunting serta sebagian besar daerah serapan realisasinya yang rendah termasuk 1 kabupaten yang 0%.
Fokus Perhatian Berdasarkan Data
1. Terdapat faktor determinan yang cakupan layanannya belum sesuai target, yaitu terutama:
– Ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan 6x
– Ibu hamil mengonsumsi TTD ≥90 tablet selama kehamilan
– Ibu hamil mendapatkan makanan tambahan
– Bayi yang mendapatkan Inisiasi Menyusu Dini
– Anak usia 12-23 bulan yang mendapatkan imunisasi dasar lengkap
– Anak usia 6-23 bulan yang mengonsumsi makanan beragam
– Anak umur 6-59 bulan yang mendapatkan makanan tambahan
– Anak usia dini yang pernah/ sedang mengikuti PAUD
– Pencegahan Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada anak umur 0-59 bulan
2. Berdasarkan kelompok umur, prevalensi stunting berturut-turut 34,7% (24-35 bulan), 30,8% (36-47 bulan), 29,4% (48-60 bulan), 26,7% (12-23 bulan), dan 16,3% (0-11 bulan). Ini artinya anak stunting di Maluku rentan mengalami stunting saat memasuki umur 12 bulan dan risiko tsb bertambah dengan bertambahnya umur.
Catatan Pembelajaran Awal
- Meskipun telah bergeser dari kategori tinggi ke medium, laju penurunan masih relatif lambat dan prevalensi tetap di atas rata-rata nasional, sehingga diperlukan penguatan dan percepatan intervensi yang lebih terarah dan konsisten.
- Tidak seluruh kabupaten/kota menunjukkan kemajuan yang seragam, dengan adanya daerah yang stagnan dan meningkat serta masih terdapat wilayah berprevalensi tinggi, sehingga diperlukan pendampingan dan prioritas intervensi pada daerah dengan kinerja terlemah.
- Walaupun alokasi lebih banyak diarahkan pada intervensi spesifik, ketidaksinkronan rasio anggaran dengan tingkat prevalensi dan rendahnya serapan di sebagian besar daerah menunjukkan perlunya penguatan perencanaan, pengendalian pelaksanaan, dan akuntabilitas belanja agar lebih berdampak.
- Belum optimalnya cakupan layanan kunci ibu dan anak, serta meningkatnya risiko stunting sejak usia di atas satu tahun, menegaskan perlunya penguatan mutu, konsistensi, dan integrasi layanan secara berkelanjutan sejak kehamilan dengan prioritas pada 1.000 HPK hingga usia balita.
Dokumen lengkap Stunting dalam Angka Provinsi Maluku menyajikan rincian data prevalensi, distribusi wilayah, capaian indikator program, analisis median berat badan menurut umur, serta rekomendasi spesifik wilayah. Data ini dapat dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dan evaluasi program percepatan penurunan stunting.


