KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI

SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN

Gambaran Umum

Prevalensi stunting di Provinsi Sulawesi Tengah menunjukkan tren penurunan dalam kurun waktu 2018–2024, yaitu dari 32,3% menjadi 26,1%, atau turun 6,2 poin persentase selama 6 tahun. Meskipun terjadi perbaikan, laju penurunan masih relatif moderat dan beban kasus tetap besar, dengan estimasi sekitar 73.288 balita yang mengalami stunting. Secara kewilayahan, dari 13 kabupaten/kota, sebanyak 11 daerah menunjukkan tren penurunan prevalensi. Namun, terdapat 2 daerah yang malah mengalami kenaikan prevalensi. Hal ini menunjukkan bahwa capaian penurunan belum merata sepenuhnya. Dilihat dari tingkat prevalensi, sebagian besar kabupaten/kota berada pada kategori medium (>20%), sementara dua kabupaten masih berada pada kategori tinggi (>30%). Data ini menegaskan masih adanya kantong-kantong wilayah dengan beban stunting yang relatif berat.

Dari aspek pembiayaan, alokasi anggaran stunting tahun 2024 dan 2025 lebih banyak diarahkan pada intervensi spesifik, dengan rasio anggaran terhadap APBD yang secara umum sejalan dengan tingkat prevalensi masing-masing daerah. Namun demikian, realisasi serapan anggaran masih menunjukkan variasi yang cukup lebar, berkisar antara 38,6% hingga 108,1%, yang mengindikasikan perbedaan kapasitas dan efektivitas pelaksanaan program di tingkat kabupaten/kota.

Fokus Perhatian Berdasarkan Data

1. Terdapat faktor determinan yang cakupan layanannya belum memenuhi target minimal, terutama :
– Ibu hamil : melakukan pemeriksaan kehamilan 6x, konsumsi TTD ≥90 tablet, mendapatkan makanan tambahan
– Bayi yang mendapatkan Inisiasi Menyusu Dini
– Anak usia 12-23 bulan yang mendapatkan imunisasi dasar lengkap
– Anak usia 6-23 bulan yang mengonsumsi makanan beragam
– Anak umur 6-59 bulan yang mendapatkan makanan tambahan
– Anak usia dini yang pernah/ sedang mengikuti PAUD
– Pencegahan Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada anak umur 0-59
2. Berdasarkan kelompok umur, prevalensi stunting berturut-turut 32,2% (24-35 bulan), 28,4% (36-47 bulan), 28,1% (12-23 bulan), 24,1% (48-60 bulan), dan 14,5% (0-11 bulan). Ini artinya anak stunting di Sulteng rentan mengalami stunting saat memasuki umur 12 bulan dan risiko tersebut meningkat dengan bertambahnya umur.

Catatan Pembelajaran Awal

  • Penurunan prevalensi telah terjadi namun berlangsung dengan laju yang relatif moderat dan belum konsisten di seluruh wilayah, sehingga diperlukan penguatan konsistensi implementasi dan pengawalan kinerja agar arah perbaikan tidak kembali berfluktuasi.
  • Masih adanya indikator layanan ibu dan anak yang belum mencapai target, ditambah pola peningkatan risiko setelah anak memasuki usia di atas satu tahun, menunjukkan perlunya penguatan mutu dan kesinambungan layanan sejak kehamilan hingga usia baduta, dengan penekanan pada kualitas interaksi layanan, kepatuhan konsumsi intervensi gizi, serta edukasi pengasuhan dan praktik pemberian makan.
  • Perbedaan capaian antar kabupaten/kota, termasuk adanya daerah yang mengalami kenaikan prevalensi dan variasi realisasi anggaran yang cukup lebar, menegaskan pentingnya pendekatan berbasis prioritas wilayah, penguatan kapasitas tata kelola pelaksanaan program, serta peningkatan akuntabilitas agar pembiayaan yang relatif sejalan dengan beban masalah benar-benar menghasilkan dampak yang merata.

Dokumen lengkap Stunting dalam Angka Provinsi Sulawesi Tengah menyajikan rincian data prevalensi, distribusi wilayah, capaian indikator program, analisis median berat badan menurut umur, serta rekomendasi spesifik wilayah. Data ini dapat dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dan evaluasi program percepatan penurunan stunting.

Dokumen lengkap dapat diunduh melalui tautan berikut: