Perkembangan stunting di Kalimantan Timur menunjukkan penurunan dalam beberapa tahun terakhir, namun laju penurunannya relatif belum signifikan. Prevalensi stunting di Kalimantan Timur turun dari 29,2% pada 2018 menjadi 22,2% pada 2024 (turun 7 poin). Angka tersebut menempatkan Kaltim berada pada kategori medium dan di masih atas angka nasional (19,8%). Secara absolut, diperkirakan terdapat sekitar 67.546 balita stunting pada 2024.
Secara kewilayahan, terdapat 1 kabupaten dengan prevalensi tinggi (>30%) dan 8 dari 10 kabupaten/kota berada pada kategori sedang (>20%). Sebanyak 8 kabupaten/kota menunjukkan tren penurunan, sementara 2 daerah mengalami peningkatan. Dari sisi pembiayaan, komposisi anggaran relatif lebih besar pada intervensi sensitif. Alokasi tahun 2024 dan 2025 juga belum proporsional, karena rasio anggaran tagging stunting terhadap APBD belum selaras dengan tingkat prevalensi stunting. Berdasarkan realisasinya, anggaran stunting menunjukkan variasi antar daerah, berkisar antara 39,7% – 101,0%.
Fokus Perhatian Berdasarkan Data
- Terdapat cakupan layanan esensial yang masih di bawah target 80%, terutama pada :
- Pemeriksaan kehamilan 6x
- Pemberian makanan tambahan pada ibu hamil dan anak 6-59 bulan
- Inisiasi Menyusui Dini
- Keikutsertaan anak pada PAUD
- Pencegahan ISPA pada anak 0-59 bulan
- Berdasarkan kelompok umur, prevalensi tertinggi terdapat pada anak usia 24–35 bulan (25,2%), diikuti 12–23 bulan (23,9%) dan 36–47 bulan (22,6%), serta lebih rendah pada usia 0–11 bulan (16,9%). Pola ini menunjukkan risiko meningkat setelah usia 12 bulan dan bertambah seiring pertambahan usia.
Catatan Pembelajaran Awal
- Penurunan prevalensi menunjukkan adanya kemajuan, namun laju perubahannya masih terbatas dan belum cukup kuat untuk mencapai target secara konsisten. Hal ini menegaskan pentingnya memperkuat intensitas dan kesinambungan intervensi agar percepatan penurunan dapat berlangsung lebih optimal.
- Masih adanya layanan esensial yang belum optimal dan meningkatnya risiko seiring pertambahan usia bayi menegaskan perlunya penguatan mutu, konsistensi, dan integrasi layanan melalui pendekatan siklus hidup, dengan intervensi berkelanjutan sejak kehamilan hingga usia dua tahun sebagai fase paling menentukan dalam pencegahan stunting.
- Perbedaan capaian antarwilayah menunjukkan bahwa kemajuan belum berlangsung merata, sehingga diperlukan pendekatan berbasis prioritas yang lebih terarah pada wilayah dengan beban masalah lebih tinggi, disertai penguatan dukungan implementasi sesuai konteks lokal.
- Komposisi dan realisasi anggaran yang belum sepenuhnya selaras dengan tingkat kebutuhan menunjukkan pentingnya penguatan perencanaan berbasis data, peningkatan kualitas belanja, serta memastikan pembiayaan benar-benar mendukung intervensi yang paling berdampak terhadap penurunan stunting.
Dokumen lengkap Stunting dalam Angka Provinsi Kalimantan Timur menyajikan rincian data prevalensi, distribusi wilayah, capaian indikator program, analisis median berat badan menurut umur, serta rekomendasi spesifik wilayah. Data ini dapat dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dan evaluasi program percepatan penurunan stunting.


