Prevalensi stunting di Provinsi Kalimantan Selatan menunjukkan tren penurunan yang konsisten dalam periode 2018–2024, dari 33,1% menjadi 22,9%. Selama enam tahun terjadi penurunan sebesar 10,2 poin persentase atau rata-rata 1,7 poin per tahun. Meski demikian, pada 2024 masih diperkirakan terdapat sekitar 83.600 balita yang mengalami stunting, sehingga beban kasus tetap signifikan. Secara kewilayahan, seluruh 13 kabupaten/kota menunjukkan tren penurunan prevalensi. Namun dari sisi tingkat prevalensi, masih terdapat sejumlah kabupaten/kota pada kategori medium (>20%) dan satu kabupaten berada pada kategori tinggi (>30%), yang menunjukkan perlunya penguatan intervensi lebih terarah di wilayah dengan beban relatif lebih berat.
Dari aspek pendanaan, pada 2024 maupun 2025 alokasi anggaran stunting di sebagian besar daerah lebih banyak diarahkan pada intervensi enabling. Alokasi tahun 2025 dinilai lebih proporsional dibanding tahun sebelumnya, dengan rasio anggaran tagging stunting terhadap APBD yang relatif sejalan dengan tingkat prevalensi. Namun demikian, realisasi serapan anggaran masih menunjukkan variasi yang cukup lebar, berkisar antara 49,1% hingga 111%, yang mengindikasikan perbedaan kapasitas pelaksanaan dan pengendalian program di tingkat daerah.
Fokus Perhatian Berdasarkan Data
- Masih terdapat cakupan layanan esensial yang berada di bawah target, terutama pada intervensi sejak masa kehamilan hingga usia balita. Hal ini mencakup :
- Ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan 6x
- Ibu hamil mendapatkan makanan tambahan
- Bayi yang mendapatkan Inisiasi Menyusu Dini
- Anak umur 6-59 bulan yang mendapatkan makanan tambahan
- Anak usia dini yang pernah/ sedang mengikuti PAUD
- Pencegahan Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada anak umur 0-59 bulan
- Berdasarkan kelompok umur, prevalensi stunting berturut-turut 26,3% (24-35 bulan), 25,3% (36-47 bulan), 24,3% (48-60 bulan), 20,9% (12-23 bulan), dan 14,9% (0-11 bulan). Ini artinya anak-anak di Kalsel rentan mengalami stunting saat memasuki umur 12 bulan dan risiko tersebut meningkat dengan bertambahnya umur.
Catatan Pembelajaran Awal
- Konsistensi arah kebijakan membuahkan hasil, terlihat dari seluruh kabupaten/kota yang menunjukkan tren penurunan. Tantangannya adalah menjaga keberlanjutan agar laju penurunan tetap stabil dan tidak melambat.
- Tingginya prevalensi pada kelompok usia 12–47 bulan, disertai masih rendahnya cakupan layanan esensial, menunjukkan adanya celah kesinambungan layanan sejak masa kehamilan hingga balita. Artinya, tantangan bukan hanya pada fase awal 1.000 HPK, tetapi pada konsistensi kualitas dan jangkauan intervensi sepanjang siklus hidup anak.
- Alokasi anggaran sudah relatif selaras dengan prevalensi, namun variasi serapan yang lebar menunjukkan perlunya penguatan tata kelola, pendampingan teknis, dan monitoring agar anggaran benar-benar berdampak pada perbaikan layanan dasar.
Dokumen lengkap Stunting dalam Angka Provinsi Kalimantan Selatan menyajikan rincian data prevalensi, distribusi wilayah, capaian indikator program, analisis median berat badan menurut umur, serta rekomendasi spesifik wilayah. Data ini dapat dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dan evaluasi program percepatan penurunan stunting.


