Prevalensi stunting di Prov. Nusa Tenggara Timur (NTT) belum menunujukkan tren penurunan yang signifikan yaitu dari 42,5% di tahun 2018 ke 37% di 2024. Berdasarkan Survei Status Gizi tahun 2024, prevalensi stunting di NTT menjadi salah satu yang tertinggi di Indonesia. Saat ini diperkirakan 4 dari 10 atau berkisar 213.584 balita yang mengalami stunting di NTT. Jumlah tersebut tersebar di 22 kabupaten/kota di NTT. Sebagian besar daerah tercatat memiliki prevalensi stunting yang tergolong kategori sangat tinggi (>40%) yaitu di 5 kabupaten/kota dan tinggi (30% – 39,9%) yaitu di 13 kabupaten/kota. Secara umum setiap kabupaten/kota memang secara bertahap terus mengalami penurunan stunting, namun terpantau terdapat 3 kabupaten/kota yang malah mengalami kenaikan dalam 6 kurun waktu 2018-2024.
Sebagian besar daerah sudah mengalokasikan anggaran stunting tahun 2024-2025 lebih banyak untuk intervensi spesifik, kecualai 1 daerah yang lebih banyak mengalokasikan anggarannya untuk enabling (penunjang intervensi sensitif dan spesifik). Namun dari aspek realisasi penyerapan anggaran terpantau timpang, berkisar dari 9,2% – 163,5%. Tercatat 5 daerah dengan penyerapan anggaran stunting yang kurang dari 50%.
Fokus Perhatian Berdasarkan Data
-
-
- Terdapat faktor determinan yang cakupan layannya masih berada di bawah target yang diharapkan, terutama :
-
- Ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan 6x
- Ibu hamil mendapatkan makanan tambahan
- Bayi yang mendapatkan Inisiasi Menyusu Dini
- Anak usia 6-23 bulan mengonsumsi makanan beragam
- Anak umur 6-59 bulan yang mendapatkan makanan tambahan
- Anak usia dini yang pernah/ sedang mengikuti PAUD
- Pencegahan Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada anak umur 0-59 bulan
-
-
- Berdasarkan kelompok umur, prevalensi stunting berturut-turut 41,8% (24-35 bulan), 41,3% (36-47 bulan), 38,3% (48-60 bulan), 35,7% (12-23 bulan), dan 20,4% (0-11 bulan). Ini artinya anak di NTT rentan mengalami stunting sejak dilahirkan dan terus bertambah risikonya seiring bertambahnya umur.
-
Catatan Pembelajaran Awal
- Penurunan prevalensi berjalan lambat dan belum signifikan, dengan beban kasus yang masih sangat besar serta menjadi salah satu tertinggi secara nasional, sehingga diperlukan pendekatan luar biasa yang lebih terintegrasi dan masif.
- Mayoritas kabupaten/kota masih berada pada kategori tinggi hingga sangat tinggi, serta terdapat daerah dengan tren kenaikan, sehingga diperlukan penanganan yang lebih fokus, intensif, dan diprioritaskan pada wilayah dengan beban stunting paling berat.
- Meskipun alokasi lebih banyak diarahkan pada intervensi spesifik, ketimpangan dan rendahnya serapan di sejumlah daerah mengindikasikan tantangan dalam perencanaan, eksekusi, dan pengendalian program, sehingga penguatan tata kelola dan akuntabilitas menjadi kunci.
- Rendahnya cakupan layanan esensial ibu dan anak serta pola prevalensi yang meningkat seiring bertambahnya usia menegaskan pentingnya intervensi berkelanjutan sejak kehamilan, dengan prioritas kuat pada 1.000 HPK tanpa mengabaikan keberlanjutan hingga usia lima tahun.
Dokumen lengkap Stunting dalam Angka Provinsi Nusa Tenggara Timur menyajikan rincian data prevalensi, distribusi wilayah, capaian indikator program, analisis median berat badan menurut umur, serta rekomendasi spesifik wilayah. Data ini dapat dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dan evaluasi program percepatan penurunan stunting.


