Tren prevalensi stunting di NTB menunjukkan pola yang fluktuatif dalam periode 2018–2024. Prevalensi tercatat sebesar 33,5% pada 2018, meningkat menjadi 36,8% pada 2019, kemudian menurun hingga 24,6% pada 2023, sebelum kembali naik menjadi 29,8% pada 2024. Secara keseluruhan, penurunan selama enam tahun hanya sebesar 3,7 poin persentase, sehingga belum menunjukkan perbaikan yang stabil. Saat ini diperkirakan terdapat 144.689 balita yang mengalami stunting di NTB.
Secara kewilayahan, dari 10 kabupaten/kota, sebanyak 7 menunjukkan tren penurunan prevalensi. Namun demikian, 2 kabupaten relatf stagnan, bahkan 1 kabupaten justru mengalami peningkatan. Dari sisi tingkat prevalensi terdapat 2 kabupaten berada pada kategori tinggi (>30%). Dari aspek pendanaan, pada 2024 dan 2025 proporsi anggaran stunting di sebagian besar kabupaten/kota lebih banyak dialokasikan untuk intervensi spesifik, kecuali satu kabupaten yang lebih dominan pada intervensi sensitif. Namun, alokasi anggaran pada kedua tahun tersebut dinilai kurang proporsional karena rasio anggaran tagging stunting terhadap APBD belum sepenuhnya sejalan dengan tingkat prevalensi. Selain itu, realisasi serapan anggaran menunjukkan ketimpangan yang cukup lebar, berkisar antara 49% hingga 174,8%.
Fokus Perhatian Berdasarkan Data
1. Terdapat faktor determinan yang cakupan layannya masih berada di bawah target yang diharapkan, terutama :
– Ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan 6x
– Ibu hamil mendapatkan makanan tambahan
– Bayi yang mendapatkan Inisiasi Menyusu Dini
– Anak usia 6-23 bulan mengonsumsi makanan beragam
– Anak umur 6-59 bulan yang mendapatkan makanan tambahan
– Anak usia dini yang pernah/ sedang mengikuti PAUD
– Pencegahan Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada anak umur 0-59 bulan
2. Berdasarkan kelompok umur, prevalensi stunting berturut-turut 35,5% (24-35 bulan), 31,9% (36-47 bulan), 30,1% (48-60 bulan), 29,8% (12-23 bulan), dan 15,9% (0-11 bulan). Ini artinya anak stunting di NTB didominasi oleh anak berumur 2 tahun ke atas.
Catatan Pembelajaran Awal
- Pola prevalensi yang naik–turun memerlukan penguatan pengendalian program agar capaian tidak kembali terkoreksi pada tahun berikutnya.
- Ketimpangan capaian antar kabupaten menunjukkan bahwa kualitas implementasi dan intensitas intervensi belum merata, sehingga pendekatan berbasis prioritas wilayah perlu diperkuat.
- Alokasi anggaran yang belum sepenuhnya proporsional terhadap tingkat prevalensi serta rasio tagging terhadap APBD yang belum selaras dengan beban masalah menunjukkan perlunya penajaman perencanaan dan penganggaran berbasis data.
- Rendahnya cakupan layanan esensial pada masa kehamilan, persalinan, dan usia balita menunjukkan bahwa faktor determinan belum tertangani secara optimal.
- Dominasi prevalensi pada kelompok usia di atas dua tahun menandakan bahwa intervensi pada periode awal kehidupan belum cukup kuat mencegah akumulasi risiko, sehingga penguatan layanan sejak kehamilan hingga usia dua tahun perlu dipastikan kualitas dan keberlanjutannya.
Dokumen lengkap Stunting dalam Angka Provinsi Nusa Tenggara Barat menyajikan rincian data prevalensi, distribusi wilayah, capaian indikator program, analisis median berat badan menurut umur, serta rekomendasi spesifik wilayah. Data ini dapat dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dan evaluasi program percepatan penurunan stunting.


