Dalam periode 2018–2024, Provinsi Jawa Timur berhasil menurunkan prevalensi stunting secara signifikan dari 32,8% menjadi 14,7%, atau turun 18,1 poin persentase (sekitar 3 poin per tahun). Capaian ini menempatkan Jawa Timur dalam kategori prevalensi rendah dan berada di bawah rata-rata nasional (19,8%). Meskipun demikian, secara absolut jumlah balita stunting masih besar, diperkirakan sekitar 403.220 anak pada tahun 2024.
Penurunan prevalensi terjadi di seluruh 38 kabupaten/kota, menunjukkan kemajuan yang relatif merata. Namun demikian, masih terdapat 1 kabupaten dengan prevalensi tinggi (>30%). Tercatat sebanyak 10 kabupaten/kota memiliki prevalensi yang sedang (20% – 29%) dan sisanya (27 kabupaten/kota) sudah relative rendah (<20%). Dari sisi pembiayaan, alokasi anggaran stunting pada 2024 dan 2025 sebagian besar diarahkan pada intervensi spesifik, dan secara umum menunjukkan proporsionalitas dengan tingkat prevalensi antarwilayah. Namun demikian, realisasi anggaran tahun 2024 masih bervariasi cukup lebar, yakni antara 39,7% hingga 147,3%, sehingga konsistensi dan efektivitas pelaksanaan anggaran masih perlu diperkuat agar pembiayaan dapat memberikan dampak optimal terhadap percepatan penurunan stunting.
- Fokus Perhatian Berdasarkan Data
Sebagian cakupan intervensi esensial masih di bawah target, terutama :
– Pemeriksaan kehamilan minimal enam kali
– Pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil dan balita
– Praktik Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
– Pencegahan penyakit infeksi pada anak
2. Berdasarkan kelompok umur, prevalensi stunting berturut-turut 18,2% (24-35 bulan), 16,2% (36-47 bulan), 15,7% (48-60 bulan), 14,8% (12-23 bulan), dan 7% (0-11 bulan). Ini artinya balita di Jawa Timur rentan menjadi stunting setelah berumur 12 bulan.
Pembelajaran Awal
- Penurunan prevalensi di seluruh kabupaten/kota menunjukkan strategi percepatan berjalan efektif, namun masih adanya beberapa wilayah dengan prevalensi di atas 20%, termasuk satu wilayah kategori tinggi, menegaskan perlunya pendekatan prioritas pada daerah dengan beban masalah lebih besar.
- Sebagai provinsi dengan populasi besar, besarnya jumlah absolut balita stunting meskipun prevalensi sudah rendah menunjukkan perlunya penguatan cakupan dan kualitas intervensi esensial yang masih belum optimal, terutama karena risiko meningkat setelah usia 12 bulan, sehingga konsistensi intervensi pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan tetap menjadi kunci.
- Alokasi anggaran yang relatif proporsional perlu diimbangi dengan konsistensi realisasi dan efektivitas pelaksanaan. Variasi serapan anggaran yang masih lebar menunjukkan perlunya penguatan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan agar pembiayaan lebih efektif dalam mendukung peningkatan cakupan intervensi terutama di wilayah prioritas.
Dokumen lengkap Stunting dalam Angka Provinsi Jawa Timur menyajikan rincian data prevalensi, distribusi wilayah, capaian indikator program, analisis median berat badan menurut umur, serta rekomendasi spesifik wilayah. Data ini dapat dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dan evaluasi program percepatan penurunan stunting.


