Provinsi DI Yogyakarta mencatat penurunan prevalensi stunting dari 21,4% pada tahun 2018 menjadi 17,4% pada tahun 2024, atau turun 4 poin persentase. Capaian ini menempatkan DI Yogyakarta dalam kategori prevalensi rendah dan berada di bawah rata-rata nasional (19,8%). Secara absolut, diperkirakan masih terdapat sekitar 48.416 balita yang mengalami stunting, sehingga konsistensi upaya percepatan tetap diperlukan. Seluruh kabupaten/kota di DIY juga telah berada pada kategori rendah, menunjukkan capaian yang relatif merata di tingkat wilayah.
Dari sisi pembiayaan, Provinsi DI Yogyakarta umumnya mengalokasikan anggaran stunting lebih besar pada intervensi spesifik pada tahun 2024 dan 2025. Namun demikian, alokasi anggaran tersebut belum sepenuhnya proporsional karena belum selaras dengan tingkat prevalensi antar wilayah. Sementara itu, realisasi anggaran tahun 2024 tergolong tinggi, dengan kisaran 78,77% hingga 100,62%, menunjukkan kapasitas penyerapan yang relatif baik.
Fokus Perhatian Berdasarkan Data
1. Terdapat cakupan intervensi esensial yang masih belum optimal, terutama pada layanan kunci sejak masa kehamilan hingga usia balita, meliputi :
– Pemeriksaan kehamilan minimal enam kali,
– Pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil dan balita,
– Pencegahan penyakit infeksi pada anak.
2. Berdasarkan kelompok umur, prevalensi stunting berturut-turut 24,1% (24-35 bulan), 20,7% (12-23 bulan), 18,1% (36-47 bulan), 13,8% (48-60 bulan), dan 8,6% (0-11 bulan). Ini artinya balita di DIY relatif lebih rentan mengalami stunting saat memasuki umur 12 bulan.
Pembelajaran Awal
- Capaian seluruh kabupaten/kota yang telah berada pada kategori rendah menunjukkan kemajuan yang merata, namun masih adanya jumlah absolut balita stunting menegaskan pentingnya menjaga konsistensi intervensi, terutama pada kelompok sasaran dengan risiko lebih tinggi.
- Masih belum optimalnya beberapa cakupan layanan esensial sejak masa kehamilan hingga usia balita menunjukkan perlunya penguatan kualitas dan kesinambungan layanan dasar sebagai faktor kunci pencegahan stunting.
- Peningkatan prevalensi setelah usia 12 bulan dan puncak pada usia 24–35 bulan menegaskan pentingnya penguatan intervensi pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan, terutama pada fase transisi MPASI dan pemantauan pertumbuhan, untuk mencegah anak yang lahir sehat mengalami stunting pada usia berikutnya.
- Meskipun realisasi anggaran tergolong tinggi, alokasi yang belum sepenuhnya selaras dengan tingkat prevalensi menunjukkan perlunya penguatan ketepatan penargetan anggaran, agar pembiayaan semakin efektif dalam mendukung percepatan penurunan stunting
Dokumen lengkap Stunting dalam Angka Provinsi DI Yogyakarta menyajikan rincian data prevalensi, distribusi wilayah, capaian indikator program, analisis median berat badan menurut umur, serta rekomendasi spesifik wilayah. Data ini dapat dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dan evaluasi program percepatan penurunan stunting.


