KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI

SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN

Gambaran Umum

Provinsi Jawa Tengah mencatat penurunan prevalensi stunting dari 31,2% pada tahun 2018 menjadi 17,1% pada tahun 2024, atau turun 14,1 poin persentase. Capaian ini menempatkan Jawa Tengah dalam kategori prevalensi rendah dan berada di bawah rata-rata nasional (19,8%). Namun demikian, dengan jumlah populasi balita yang besar, provinsi ini tetap menjadi prioritas karena secara absolut diperkirakan terdapat sekitar 412.023 balita yang mengalami stunting pada tahun 2024.

Secara kewilayahan, sudah tidak terdapat kabupaten/kota dengan prevalensi stunting tinggi di atas 30%. Namun, masih terdapat 10 dari 35 kabupaten/kota dengan prevalensi sedang (20% -29%) yang menunjukkan masih adanya wilayah dengan tingkat kerentanan relatif lebih tinggi. Selain itu, seluruh kabupaten/kota juga menunjukkan tren penurunan prevalensi yang mencerminkan kemajuan yang cukup merata. Dari sisi pembiayaan, anggaran stunting pada tahun 2024 dan 2025 umumnya lebih banyak dialokasikan untuk intervensi spesifik, meskipun di beberapa daerah lebih besar pada intervensi sensitif. Alokasi anggaran juga belum sepenuhnya proporsional karena belum selaras dengan tingkat prevalensi antarwilayah. Sementara itu, realisasi anggaran menunjukkan variasi yang cukup lebar, dengan capaian tertinggi 114,9% dan terendah 44,1%. yang menunjukkan masih adanya kesenjangan dalam kapasitas penyerapan dan efektivitas implementasi program.

Fokus Perhatian Berdasarkan Data

  1. Masih terdapat cakupan intervensi yang belum optimal dan berada di bawah target 80%, terutama :
  • Pemeriksaan kehamilan minimal enam kali
  • Pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil dan balita
  • Praktik Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
  • Konsumsi makanan beragam pada anak usia 6–23 bulan
  • Partisipasi PAUD
  • Pencegahan infeksi seperti ISPA
  1. Berdasarkan kelompok umur, prevalensi stunting berturut-turut 22,3% (24-35 bulan), 18,4% (36-47 bulan), 17,2% (12-23 bulan), 16,3% (48-60 bulan), dan 9,2% (0-11 bulan). Ini artinya balita di Jawa Tengah relatif lebih rentan mengalami stunting terutama saat memasuki umur 24 bulan.

Pembelajaran Awal

  • Penurunan prevalensi yang signifikan dan merata di seluruh kabupaten/kota menunjukkan bahwa strategi percepatan berjalan efektif, namun masih adanya 10 wilayah dengan prevalensi kategori sedang menegaskan perlunya pendekatan prioritas pada daerah dengan tingkat kerentanan lebih tinggi.
  • Sebagai provinsi dengan populasi besar dan jumlah absolut balita stunting yang tinggi, Jawa Tengah memerlukan penguatan intervensi secara konsisten, terutama karena masih belum optimalnya beberapa cakupan layanan esensial dan meningkatnya kerentanan pada kelompok usia 24–35 bulan, yang menegaskan pentingnya kesinambungan intervensi sejak masa kehamilan hingga periode transisi MPASI untuk memastikan penurunan prevalensi diikuti dengan penurunan jumlah kasus secara nyata.
  • Alokasi anggaran yang telah diarahkan pada intervensi spesifik perlu diimbangi dengan ketepatan penargetan dan konsistensi realisasi, mengingat masih terdapat ketidaksesuaian dengan tingkat prevalensi antarwilayah serta variasi serapan yang cukup lebar.

Dokumen lengkap Stunting dalam Angka Provinsi Jawa Tengah menyajikan rincian data prevalensi, distribusi wilayah, capaian indikator program, analisis median berat badan menurut umur, serta rekomendasi spesifik wilayah. Data ini dapat dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dan evaluasi program percepatan penurunan stunting.

Dokumen lengkap dapat diunduh melalui tautan berikut: