Berbagi pembelajaran menjadi salah satu agenda utama dalam Rapat Koordinasi Nasional Percepatan Penurunan Stunting (Rakornas PPS) 2025. Pada kesempatan ini diskusi dipandu oleh Direktur Bina Ketahanan Keluarga Balita dan Anak, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Irma Ardiana dengan sharing yang dilakukan oleh Kab. Demak, Desa Jabalsari, Kab. Tulungagung, dan Baznas.
Saat membuka sesi, Irma berharap kegiatan ini bisa menginspirasi semua pihak dalam mendukung percepatan penurunan stunting di wilayah masing-masing. Pasalnya, hingga saat ini masih ada sejumlah daerah dengan prevalensi stunting tinggi. Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), 2024, menunjukkan ada 5 provinsi dengan angka prevalensi stunting tinggi di angaka 30-40%, kemudian terdapat 21 provinsi dengan prevalensi stunting sedang dengan capaian 20-30%, dan terdapat 12 provinsi dengan prevalensi stunting rendah dengan capaian di angka kurang dari 20%.
“Bapak dan ibu, semua peserta yang hadir, baik secara daring dan luring, mari kita simak sesi ini dengan baik. Harapannya, cerita inspiratif yang disampaikan oleh para narasumber bisa direplikasi di wilayah kerja bapak/ibu semua untuk memaksimalkan upaya percepatan penurunan stunting,” terangnya.
Kepala Dinas Kesehatan, Kab. Demak, Ali Maimun menjelaskan bahwa wilayahnya telah menjalankan profram Cengkeraman Mata Elang (CME) sejak tahun 2017. CME merupakan inovasi digital untuk pemantauan kesehatan ibu hamil dan bayi, termasuk deteksi dini stunting. Dalam pelaksanaanya para bidan dan kader posyandu akan turun ke langsung ke lapangan bertemu Ibu hamil dan balita, Jika ditemukan sasaran yang berisiko, maka akan langsung dicatat dalam buku dan aplikasi CME.
Kemudian, sasaran akan dipantau secara intensif oleh kader dan tenaga kesehatan. Aplikasi CME juga memiliki sistem notifikasi digital yang otomatis dikirimkan ke sasaran. “Misalnya untuk ibu hamil, akan ada peringatan 14 hari sebelum Hari Perkiraan Lahir, atau jika ada kondisi risiko tinggi yang harus segera ditangani,” jelas Ali.
Dalam menjaga keberlanjutan, inovasi CME telah didukung oleg regulasi kuat melalui SK Bupati Demak. Selain itu, Pemkab juga secara rutin mengadakan pelatihan kader untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam memaksimalkan pemanfaatan CME.
“Hasilnya sangat nyata, dalam 5 tahun terakhir capaian kesehatan ibu dan anak di Kabupaten Demak meningkat signifikan, termasuk untuk isu stunting, dari semula di angka 35,7% pada 2019 (SSGBI), kini merosot drastis menjadi hanya 10% pada 2024 (SSGI),” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepada Desa Jabalsari, Kab.Tulungagung, Mahmudi menceritakan Gerakan Gerdu Jempol Sari yang terdiri dari 12 inovasi tematik. Beberapa di antaranya adalah Semangka Madusari yang berfokus pada pelatihan kader, Tandur Gemayur yang menggerakkan warga menanam sayur, Si Sari Centing yang mendigitalisasi data stunting, Keliting Sari sebagai kelas pendampingan balita stunting, serta Ratu Valentinasari. “Setiap inovasi punya indikator keberhasilan dan semuanya dijalankan kelompok lintas dusun yang membuat semua gerakan berjalan menyeluruh,” paparnya.
Mahmudi menambahkan, agar semua inovasi ini berjalan dengan baik dan berhasil optimal, pemerintah desa memiliki komitmen kuat untuk mendukung semua inovasi melalui bantuan pendanaan. “Pemerintah desa mengalokasikan 27,26% Dana Desa bidang pembangunan untuk program penurunan stunting, atau setara 9,82% dari APBDesa 2024,” terangnya.
“Kami juga melakukan kolaborasi dengan para pelaku usaha lokal, misalnya dengan Industri sapu, peternak ayam, dan kelompok wanita tani. Mereka menyumbang bahan pangan dan dukungan logistik. Semua dukungan CSR ini diatur melalui MoU, dilaporkan dalam forum Rembuk Stunting, dan dipublikasikan melalui sistem data desa JAPUDATA agar transparan,” tambahnya.
Melalui gerakan terpadu ini, prevalensi stunting di Desa Jabalsari berhasil turun dari 5,18% pada 2022 menjadi 1,59% pada 2024.
Sementara itu, Kepala Divisi Baznas, Siti Masturoh, menjelaskan sebagai mitra strategis pemerintah Baznas memiliki komitmen kuat untuk mendukung pemerintah dalam bidang kesehatan, termasuk untuk percepatan penurunan stunting.
“Dalam penanganan stunting kami memiliki 4 klaster utama intervensi yaitu bantuan nutrisi, bantuan non-nutrisi, dukungan penyediaan akses air minum dan sanitasi aman, serta pemberian edukasi kesahatan yang bekerjasama dengan PKK dan TPPS desa,” ungkapnya.
Komitmen kuat Baznas dalam mendukung percepatan penurunan stunting mendapat penghargaan dari BKKN pada 2024 lalu sebagai Mitra Inspiratif Penurunan Stunting Nasional.
Disisi lain, dalam sesi penutupan, Plt. Asisten Deputi Kesehatan, Gizi, dan Pembangunan Keluarga, Sekretariat Wakil Presiden, Siti Alfiah menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat. Mulai dari peserta, narasumber, moderator, hingga tamu undangan yang berasal dari beragam kalangan atas berbagai bentuk dukungan yang diberikan.
“Dalam kesempatan ini kami mengajak semuapihak untuk memperkuat kolaborasi nasional untuk mewujudkan generasi Indonesia yang sehat dan berkualitas menuju Indonesia Emas Bebas Stunting,” tutupnya.



