Dalam beberapa tahun terakhir percepatan penurunan stunting telah menunjukkan capaian yang menggembirakan, dimana angka stunting turun 11 persen dalam 6 tahun terakhir, dari 30,8 persen pada 2018 menjadi 19,8 persen di 2024. Selain itu, berbagai inovasi baik di tingkat pusat maupun daerah juga terus bermunculan, dan sinergi dan kolaborasi antara para pihak terkait pun semakin kuat.
Meski demikian, semangat perbaikan tentunya masih harus dilakukan. Pasalnya Indonesia melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 menargetkan pencapaian stunting di 14,2 persen.
Dengan itu, salah satu agenda Rakornas 2025 mengadakan sesi talkshow dari Kementerian/Lembaga (K/L) dengan tema “Berbagi Pembelajaran Pelaksaaan Program Percepatan Penurunan Stunting (PPS)” dengan harapan sesi ini bisa menjadi wadah refleksi bersama untuk melihat capaian, tantangan, dan rekomendasi perbaikan ke depan untuk pelaksanaan program PPS yang lebih baik dan tepat sasaran.
Sesi talkshow yang dimoderasi oleh Jelsi Natalia Marampa, Asisten Deputi Peningkatan Gizi dan Pencegahan Stunting, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menghadirkan narasumber dari 5 (lima) K/L, yaitu dari Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Keuangan.
Plt. Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian PPN/Bappenas, Pungkas Bahjuri dalam talkshow mengapresiasi bahwa komitmen pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk stunting masih tetap tinggi. Terlebih, stunting masih masuk dalam target Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045.
“Selain itu, stunting juga masuk dalam indikator kesehatan yang ada pada Indeks Modal Manusia (IMM), dan menjadi salah satu upaya transformatif kesehatan andalan, melalui jaminan gizi di 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK),” jelasnya.
Masuknya stunting dalam rencana pembangun nasional dan dikaitkan dengan sejumlah program penting nasional menjadi bukti nyata komitmen dan upaya kuat pemerintah menjadikan stunting sebagai prioritas pembangunan, guna mewujudkan generasi berkualitas menuju Indonesia emas.
Menurut Pungkas, dengan keberagaman antar wilayah yang dimiliki masing-masing daerah di Indonesia, maka implementasi program stunting memerlukan pendekatan lokal untuk bisa menjawab tantangan yang terjadi di setiap tempat.
“Salah satu langkah efektif yang bisa dilakukan daerah untuk percepatan penurunan stunting adalah, menentukan prioritas kegiatan dan lokasi dengan capaian prevelensi stunting tinggi dan jumlah penduduk yang besar. Hal lainnya yang tidak kalah penting adalah butuh kerja sama lintas sektor yang terstrukur dan saling terintegrasi,” jelasnya.
Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, Kementerian Kesehatan, Endang Sumiwi memaparkan bahwa stunting tidak terjadi tiba-tiba, sehingga pemantauan pertumbuhan balita di layanan kesehatan, termasuk posyandu sangat diperlukan. Dukungan para tenaga kesehatan untuk bantu memastikan balita berisiko segara mendapatkan intervensi juga dibutuhkan. “Stunting harus dicegah sebelum terjadi, mencegah stunting jauh lebih efektif dalam menyelamatkan sumber daya manusia,” katanya.
Intervensi spesifik dan sensitif dengan sasaran Ibu Hamil, Ibu Menyusui, dan Balita juga menjadi bagian upaya penting yang perlu dilakukan “Gagal tumbuh (stunting) pada 5 tahun pertama tidak hanya terjadi pada tampak fisik )pendek saja, tetapi juga gangguan perkembangan kognitif, sehingga intervensi sebelum lahir dan sesudah lahir menjadi sangat penting,” terangnya.
Pada kesempatan ini, Endang menekankan pentingnya peran semua pihak dalam mendukung capaian keberhasilan intervensi untuk pencegahan dan penurunan stuntin terutama untuk kelompok sasaran utama (ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan balita, hingga remaja putri). “Selain itu, dukungan sistem yang baik seperti insentif kader, pembiayaan posyandu, dan dukungan layanan puskesmas,” tambah Endang.
Ajakan kolaborasi semua pihak untuk mendukung pencegahan dan percepatan penurunan stunting juga disampaikan oleh Direktur Sinkronisasi Urusan Pemerintah Daerah III, Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah, Kementerian Dalam Negeri, Chaerul Dwi Sapta. Dalam sesi talkshow, Chaerul menegaskan kolaborasi lintas sektor, perbaikan tata kelola, dan konvergensi program menjadi hal utama dalam mendukung target penurunan stunting. “Hal pendukung lainnya adalah dibutuhkan harmonisasi kebijakan nasional dan daerah, terutama dalam RPJMD, RKPD, dan APBD,” tegasnya.
Dalam mengoptimalkan upaya percepatan penurunan stunting, Kemendukbangga/BKKBN melalui Sekretaris Kemedukbangga/BKKBN, Budi Setiyono menjelaskan, pihaknya melakukan intervensi Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) dengan sasaran keluarga berisiko stunting. Hingga Oktober 2025, telah terdapat 1.558.161 penerima program.
Selanjutnya, Direktur Dana Desa, Insentif, Otonomi Khusus, dan Keistimewaan, Kementerian Keuangan, Jaka Sucipta menjelaskan, Insentif Fiskal (IF) yang diberikan pada 50 daerah dalam acara Rakornas 2025 ini merupakan bentuk apresiasi pemerintah bagi daerah tingkat provinsi dan kabupaten kota yang telah menjalankan kinerja terbaik dalam percepatan penurunan stunting.
“Pemberian insentif ini banyak menilai proses dan kinerja administratif Pemda semester berjalan. Dana IF boleh digunakan untuk infrastruktur, peningkatan layanan kesehatan dan pendidikan, pembagunan sarana sanitasi, air minum, dan layanan PAUD, serta untuk mendukung pelaksanaan program perbaikan gizi dan kesejahteraan keluarga,” jelas Jaka.
Disisi lain, dalam pengantar sesi talkshow dan berbagi pembelajaran, Plt. Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Peningkatan Kesejahteraan dan Pembangunan Sumber Daya Manusia, Sekterariat Wakil Presiden, Dyah Kusumastuti, menerangkan, harapannya dalam Rakornas 2025 ini akan muncul rumusan kebijakan yang lebih tajam dan kolaborasi yang lebih luas. “Tidak kalah penting adalah semakin kuatnya komitmen multipihak untuk mendukung percepatan penurunan stunting. Mari kita manfaatkan sesi ini sebaik-baiknya sebagai forum pembelajaran. Mari kita saling berbagi, saling menguatkan, dan saling menginspirasi untuk mencapai satu tujuan Indonesia bebas stunting,” pungkas Dyah.



