KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI

SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN

Stunting dalam Angka Provinsi Sumatera Barat

4 Maret 2026 | Berita, KOMUNIKASI & ADVOKASI, Publikasi & Laporan, Pusat Pembelajaran

Gambaran Umum

Tren stunting di Provinsi Sumatera Barat menunjukkan dinamika yang perlu dicermati. Prevalensi menurun dari 29,9% pada 2018 menjadi 23,3% pada 2021, namun kembali meningkat menjadi 24,9% pada 2024. Secara kumulatif, penurunan sejak 2018 mencapai 5 poin, tetapi kenaikan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa perbaikan belum sepenuhnya konsisten. Angka 2024 tersebut masih berada di atas rata-rata nasional (19,8%) dan diperkirakan setara dengan sekitar 126.844 balita dalam kondisi stunting.

Secara kewilayahan, 13 dari 19 kabupaten/kota di Sumatera Barat masih berada pada kategori medium (>20%). Enam daerah lainnya telah berada di bawah 20%, yang menunjukkan adanya kemajuan di sejumlah wilayah. Dari sisi pembiayaan, anggaran stunting pada 2024 dan 2025 lebih banyak untuk intervensi spesifik (penyebab langsung). Namun pada 2025, alokasi anggaran relatif kurang proporsional dibanding 2024 karena rasio tagging anggaran terhadap APBD belum sepenuhnya sejalan dengan tingkat prevalensi stunting antar daerah. Dari aspek serapan anggaran oleh kabupaten/kota juga terpantau relatif timpang, yaitu berkisar anatar 49,6% – 121,1%.

Fokus Perhatian Berdasarkan Data

a. Beberapa indikator intervensi kunci masih berada jauh di bawah target cakupan 80%, terutama pada:
• Pemberian makanan tambahan pada ibu hamil
• Bayi yang mendapatkan Inisiasi Menyusu Dini
• Cakupan Imunisasi Dasar Lengkap pada anak usia 12–23 bulan yang masih rendah, disertai tingginya angka Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada anak.
• Konsumsi makanan beragam pada anak 6–23 bulan
• Partisipasi anak dalam PAUD
b. Berdasarkan kelompok umur, prevalensi stunting berturut-turut 29,2% (24-35 bulan), 28,6% (36-47 bulan), 25% (48-60 bulan), 24,3% (12-23 bulan), dan 14,7% (0-11 bulan). Ini artinya anak di Sumatera Barat memiliki kecenderungan menjadi stunting setelah berumur 12 bulan.

Pembelajaran Awal

  • Tren penurunan yang belum stabil sejak 2018 menunjukkan bahwa percepatan penurunan stunting masih memerlukan konsistensi dan penguatan kualitas implementasi agar kenaikan dalam beberapa tahun terakhir tidak berulang.
  • Masih rendahnya cakupan layanan kunci pada fase kehamilan dan awal kehidupan (PMT ibu hamil, IMD, imunisasi, konsumsi makanan beragam, dan partisipasi PAUD) menunjukkan perlunya penguatan kualitas dan jangkauan layanan dasar secara lebih merata.
  • Peningkatan prevalensi setelah usia 12 bulan dengan puncak pada 24–35 bulan menegaskan pentingnya penguatan periode 6–24 bulan melalui praktik pemberian makan yang adekuat (cukup sesuai kebutuhan gizi), imunisasi lengkap, serta pemantauan pertumbuhan rutin untuk mencegah perlambatan pertumbuhan sejak dini.
  • Adanya variasi prevalensi antar wilayah dan belum selarasnya alokasi anggaran dengan tingkat masalah menunjukkan perlunya penguatan perencanaan berbasis data agar intervensi dan pembiayaan semakin tepat sasaran.

Dokumen lengkap Stunting dalam Angka Provinsi Sumatera Barat menyajikan rincian data prevalensi, distribusi wilayah, capaian indikator program, analisis median berat badan menurut umur, serta rekomendasi spesifik wilayah. Data ini dapat dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dan evaluasi program percepatan penurunan stunting.

Dokumen lengkap dapat diunduh melalui tautan berikut:

BAGIKAN

Baca Juga

Link Terkait