KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI

SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN

Gambaran Umum

Dalam kurun waktu 2018–2024, Provinsi Bengkulu mencatat penurunan angka stunting dari 28,0% menjadi 18,8%, atau turun sebesar 9,2 poin persentase. Penurunan ini menjadikan Bengkulu termasuk dalam kategori prevalensi rendah dan berada sedikit di bawah rata-rata nasional (19,8%). Meskipun demikian, secara absolut diperkirakan masih terdapat sekitar 31.337 balita yang mengalami stunting, sehingga upaya percepatan penurunan tetap perlu diperkuat.

Kemajuan di tingkat provinsi tersebut secara umum juga diikuti oleh perbaikan di tingkat kabupaten/kota. Sebanyak 9 dari 10 kabupaten/kota menunjukkan tren penurunan sejak 2018, sementara satu kabupaten mengalami stagnansi. Namun demikian, masih terdapat 6 kabupaten/kota yang mencatat prevalensi pada kategori medium (≥20%), yang menunjukkan bahwa penurunan stunting belum sepenuhnya merata dan masih terdapat wilayah yang memerlukan percepatan intervensi. Untuk mendukung percepatan penurunan tersebut, alokasi anggaran tahun 2024 dan 2025 sebagian besar telah diarahkan pada intervensi spesifik dan secara umum menunjukkan kesesuaian dengan tingkat prevalensi antarwilayah. Meski demikian, realisasi anggaran masih bervariasi, dengan serapan berkisar antara 31,93% hingga 91,82%.

Fokus Perhatian Berdasarkan Data

  1. Beberapa indikator intervensi kunci masih berada di bawah target cakupan yang diharapkan, yaitu:
  • Pemeriksaan kehamilan 6x selama kehamilan
  • Ibu hamil mengonsumsi TTV ≥90 tablet selama kehamilan
  • Ibu hamil mendapatkan makanan tambahan
  • Bayi yang mendapatkan IMD
  • Anak 12-23 bulan yang mendapatkan Imunisasi Dasar Lengkap
  • Balita yang melakukan penimbangan berat badan sesuai standar (≥8x setahun)
  • Anak umur 6-59 bulan yang mendapatkan makanan tambahan
  • Anak usia dini yang pernah mengikuti PAUD
  • Pencegahan Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada anak umur 0-59 bulan berdasarkan diagnosis dan gejala
  1. Berdasarkan kelompok umur, prevalensi stunting meningkat seiring bertambahnya usia, yaitu 8,7% (0–11 bulan), 17,3% (12–23 bulan), 24,6% (24–35 bulan), 20,5% (36–47 bulan), dan 20,2% (48–60 bulan). Pola ini menunjukkan bahwa sebagian besar anak tidak lahir dalam kondisi stunting, namun mulai mengalami peningkatan risiko terutama setelah usia 24 bulan.

Pembelajaran Awal

  • Penurunan prevalensi sebesar 9,2 poin persentase sejak 2018 menunjukkan kemajuan yang positif, termasuk perbaikan status dari kategori medium menjadi rendah, namun percepatan tetap diperlukan untuk menurunkan jumlah kasus secara absolut.
  • Rendahnya cakupan layanan esensial ibu dan anak serta meningkatnya prevalensi setelah usia dua tahun menunjukkan perlunya penguatan kesinambungan layanan, intervensi gizi, dan pemantauan pertumbuhan terutama pada periode awal kehidupan anak.
  • Masih adanya 6 kabupaten/kota dengan prevalensi ≥20% serta variasi realisasi anggaran antarwilayah menunjukkan perlunya pendekatan berbasis prioritas wilayah dan penguatan efektivitas implementasi program agar dampak intervensi lebih merata.

Penutup

Dokumen Stunting dalam Angka Provinsi Bengkulu menyajikan analisis situasi stunting berbasis data yang mencakup tren prevalensi, distribusi antarwilayah, capaian indikator program, analisis pertumbuhan anak berdasarkan berat badan menurut umur, serta identifikasi wilayah prioritas intervensi. Informasi ini memberikan gambaran menyeluruh mengenai kemajuan yang telah dicapai serta tantangan yang masih perlu diatasi.

Dokumen lengkap dapat diunduh melalui tautan berikut: