Prevalensi stunting di Provinsi Aceh pada tahun 2024 tercatat sebesar 28,6%. Dibandingkan tahun 2018 (37,2%), terjadi penurunan sebesar 8,6 persen poin dalam enam tahun terakhir. Capaian ini menunjukkan kemajuan, namun masih berada di atas rata-rata nasional (19,8%). Dengan angka prevalensi tersebut, diperkirakan 3 dari 10 atau sekitar 145.612 balita di Aceh masih mengalami stunting. Besarnya jumlah kasus tersebut juga tercermin pada variasi capaian antarwilayah. Terdapat 12 dari 23 kabupaten/kota yang masih mencatat prevalensi di atas 30%. Hal ini menandakan bahwa percepatan penurunan stunting membutuhkan penguatan implementasi secara lebih merata di tingkat daerah. Dari sisi pembiayaan, anggaran stunting tahun 2024 dan 2025 lebih banyak dialokasikan pada intervensi spesifik, namun realisasi tahun 2024 menunjukkan kesenjangan yang cukup lebar (2,62% – 115,15%). Terdapat 3 kabupaten yang bahkan serapannya tidak mencapai 50%.
Fokus Perhatian Berdasarkan Data
- Beberapa indikator intervensi kunci masih berada di bawah target cakupan, terutama pada:
- Layanan kesehatan ibu hamil, termasuk pemeriksaan kehamilan minimal enam kali dan konsumsi tablet tambah darah
- Dukungan gizi bagi ibu hamil, termasuk pemberian makanan tambahan
- Praktik Inisiasi Menyusu Dini
- Kelengkapan imunisasi dasar anak usia 12–23 bulan
- Pemberian makanan tambahan bagi balita
- Konsumsi makanan beragam pada anak usia 6–23 bulan
- Berdasarkan kelompok umur, prevalensi berturut-turut adalah 14,9% (0–11 bulan), 25,7% (12–23 bulan), 34,5% (24–35 bulan), 32,2% (36–47 bulan), dan 28,2% (48–60 bulan). Pola ini menunjukkan bahwa sebagian besar anak tidak lahir dalam kondisi stunting, namun mulai mengalami perlambatan pertumbuhan setelah memasuki usia di atas 12 bulan, dengan puncak pada usia 24–35 bulan.
Pembelajaran Awal
- Penurunan sejak 2018 menunjukkan progres, namun kecepatannya masih perlu diperkuat agar mendekati rata-rata nasional.
- Cakupan layanan esensial ibu dan anak yang masih di bawah target menunjukkan perlunya penguatan kualitas dan kesinambungan layanan sejak kehamilan hingga usia balita.
- Prevalensi yang meningkat tajam setelah usia 12 bulan dan mencapai puncak pada 24–35 bulan menunjukkan perlunya penguatan praktik pemberian MPASI yang cukup dan beragam, kelengkapan imunisasi, serta pemantauan pertumbuhan rutin agar perlambatan pertumbuhan dapat dicegah sejak awal.
- Variasi capaian antar kabupaten/kota menunjukkan perlunya strategi berbasis karakteristik wilayah, terutama pada daerah dengan prevalensi sangat tinggi atau realisasi anggaran rendah.
- Proporsionalitas anggaran sudah sejalan dengan tingkat prevalensi, namun efektivitas belanja dan konsistensi realisasi perlu diperkuat agar intervensi spesifik dan sensitif benar-benar menjawab indikator yang masih belum optimal.
Dokumen Stunting dalam Angka Provinsi Aceh menyajikan rincian data prevalensi, distribusi wilayah, capaian indikator program, analisis median berat badan menurut umur, serta rekomendasi spesifik wilayah. Data ini dapat dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dan evaluasi program percepatan penurunan stunting.




