KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI

SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN

Perlunya Konsumsi TTD untuk Penanggulangan Anemia pada Ibu Hamil

19 Juli 2021 | Berita, Media

Anemia masih merupakan salah satu masalah gizi utama di Indonesia. Berdasarkan Riset Kesehatan Masyarakat (Riskesdas) 2018, masih terdapat 48,9% anemia pada ibu hamil, 32% anemia pada usia 15-24 tahun, dan 26% anemia pada usia 5-14 tahun. Anemia pada ibu hamil dan remaja putri akan meningkatkan risiko lahirnya bayi yang stunting.

Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres) bekerjasama dengan Universitas Airlangga menyelenggarakan Studi Review Kebijakan Program Anemia di Indonesia. Satu hal yang perlu dipertajam dalam studi tersebut adalah sejarah kebijakan penanggulangan anemia di Indonesia.

“Bagaimana pun historical background, semacam identifikasi kenapa kebijakan itu dikeluarkan, itu akan menjadi semacam lesson learned atau pengalaman best practice untuk referensi dalam pengambilan kebijakan ke depan,” kata Suprayoga Hadi, Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Pembangunan Manusia dan Pemerataan Pembangunan, Setwapres, dalam diskusi “Sejarah Kebijakan Penanggulangan Anemia Defisiensi Besi dan Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) di Indonesia,” Selasa (13/7).

Dalam paparannya, Suprayoga mengharapkan kajian tersebut bisa menjadi rekomendasi untuk pengambilan kebijakan dan tidak hanya menjadi sekadar tulisan saja. Rekomendasi kebijakan yang baik tentang penanggulangan anemia defisiensi besi, secara langsung atau tidak langsung akan berdampak pada penurunan stunting.

“Kita memang tidak sampai impact, tapi at least kita sudah bisa melihat adanya penurunan atau perbaikan dalam konteks anemia atau zat besi, akan menjadi semacam ukuran keberhasilan dari satu kebijakan atau regulasi yang diterapkan,” kata Suprayoga.

Dalam kegiatan tersebut, Tim penyusun laporan yang diwakili oleh Prof Sri Sumarmi, Guru Besar FKM, Universitas Airlangga menyampaikan tentang terbatasnya literatur tentang sejarah penanganan anemia di Indonesia. Kebanyakan literatur yang ada berasal dari luar negeri, seperti literatur dari WHO. Dirinya meminta masukan dari para peserta pertemuan, yang dihadiri oleh sejumlah pakar senior sekaligus guru besar dari beberapa universitas di Indonesia.

Dewan Pakar Institute Gizi Indonesia (IGI), yang juga merupakan Guru Besar FKM UI, Prof Endang L. Achadi mengatakan bahwa 63% anemia di Indonesia disebabkan defisiensi besi, penyebab lainnya antara lain cacingan, malaria, pendarahan, dan sebab lain.

Penyebab anemia di negara berkembang sebagian besar karena pola makan dan konsumsi gizi seimbang yang masih kurang baik. Ini sangat terkait dengan pendapatan masyarakat yang masih kurang.  Untuk itu, upaya yang harus didorong adalah pemberian TTD dan fortifikasi pangan atau penambahan zat besi pada pangan. Namun fortifikasi pangan masih merupakan upaya baru sehingga belum terlihat hasilnya, sedangkan pemberian TTD sudah dilakukan sejak 50 tahun yang lalu. Namun, ibu hamil yang mengkonsumsi TTD sesuai anjuran program yaitu 90 tablet selama masa kehamilan, masih rendah.

Berdasarkan Riskesdas, di tahun 2018 jumlah ibu hamil yang menerima TTD 90 tablet atau lebih berjumlah 51% dan ibu hamil yang menkonsumsi 90 tablet selama  kehamilan berjumlah 37,7%. Prof Endang menyoroti tentang kurangnya supply dan demand TTD pada ibu hamil.

“Kalau kita bicara pada saat mengkonsumsi TTD yang sudah hampir 50 tahun, yang menerima hanya separuh dalam jumlah cukup, sesuai program. Sementara yang mengkonsumsi sampai 90 tablet, sesuai program, hanya sepertiganya. Jadi kita terpaksa harus memikirkan dari segi supply dan juga segi demand,” kata Prof Endang.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Gizi Masyarakat, Kemenkes, Dhian Dipo mengatakan bahwa penanggulangan anemia pada ibu hamil merupakan salah satu upaya penurunan stunting. Namun dampaknya masih belum memuaskan karena masih rendahnya konsumsi ibu hamil pada TTD.

“Intervensi harus mencapai 90% apabila ingin memberikan dampak bagi penurunan stunting. Namun saat ini, seperti kita ketahui di laporan rutin kita, distribusi tablet tambah darah sudah 80%. Namun apabila kita lihat data dari Riskesdas yang ada, kepatuhan untuk mengkonsumsinya hanya 37%. Artinya masih jauh dari harapan,” kata Dhian.

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya dalam menanggulangi anemia pada ibu hamil, mulai dari mendorong kepatuhan ibu hamil mengkonsumsi TTD, hingga peningkatan edukasi gizi kepada kader kesehatan di puskesmas dan pengambil kebijakan di kabupaten/kota.

“Kita memberikan penguatan seperti lembar informasi, buku panduan, atau apapun bagi mereka untuk memahami dan menyadarkan bahwa ibu hamil itu harusnya mengkonsumsi TTD selama hamil itu minimal 90 tablet,” tambah Dhian.

Sejarah Kebijakan Penanggulangan Anemia Defisiensi Besi dan Pemberian TTD di Indonesia-Dr. Ir. Suprayoga Hadi, MSP
Sejarah Kebijakan Program Anemia Defisiensi Fe dan TTD di Indonesia-Abdul Razak Thaha
Sejarah Kebijakan Program Anemia di Indonesia: Pembahasan – Endang L. Achaddi
Implementasi program penanggulangan anemia-Dr. Dhian P. Dipo, MA
Kajian Literatur Sejarah Kebijakan Dan Program Penanggulangan Anemia Di Indonesia-Sri Sumarmi
Sejarah Kebijakan Program TTD Di Indonesia Implemantasi & Kendala – Dr. Dini Latief, M.Sc., SpGK
Diskusi Sejarah Kebijakan Program Penanggulangan Anemia Defisiensi Besi dan Pemberian TTD di Indonesia – Tanggapan Prof. Bambang Wirjatmadi, dr., MS., MCN., PhD, SpGK
Anemia Kurang Zat Besi dan Alternatif Penanganannya M. A. Husaini

 

BAGIKAN

Baca Juga

Link Terkait